BogorOne.co.id | Jakarta – Rencana Google untuk menjadi perusahaan teknologi ramah lingkungan menghadapi tantangan berat. Dalam laporan keberlanjutan terbarunya yang dirilis pada 2025, raksasa teknologi asal California ini melaporkan bahwa total emisi karbon mereka sepanjang tahun 2024 meningkat sebesar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 11,5 juta metrik ton CO₂.
Angka tersebut menandai lonjakan 51 persen dibandingkan data tahun 2019. Google menyebut peningkatan ini sebagai konsekuensi dari sejumlah faktor eksternal, terutama meningkatnya kebutuhan energi akibat evolusi teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Lintasan emisi karbon kami menjadi semakin menantang karena permintaan energi dari AI,” tulis Google dalam laporannya, dikutip dari The Verge, Minggu (29/6/2025).
Laporan itu juga menyebutkan bahwa total emisi sesungguhnya mencapai 15,18 juta metrik ton CO₂, setara dengan emisi hampir 40 pembangkit listrik berbahan bakar gas dalam setahun.
Meski mencatat penurunan emisi sebesar 12 persen dari pusat data, peningkatan penggunaan energi akibat AI membuat total emisi tetap tinggi. Google menyatakan bahwa emisi dari pusat data kini jauh lebih besar dibandingkan 2019, meski efisiensinya meningkat.
“Faktor-faktor ini memengaruhi biaya dan kelayakan target iklim kami, dan menuntut fleksibilitas tinggi dalam strategi,” tulis Google.
Laporan juga menyoroti sejumlah kendala yang memperlambat transisi ke energi bersih, termasuk lambatnya penerapan teknologi bebas karbon, terbatasnya pasokan energi hijau di beberapa pasar, serta perubahan kebijakan iklim dan energi global.
Masalah serupa juga dihadapi oleh perusahaan teknologi lain seperti Microsoft dan Meta, yang melaporkan peningkatan jejak karbon akibat pengembangan teknologi AI yang menyerap energi dalam jumlah besar.
Beberapa analis memperkirakan bahwa konsumsi energi oleh AI akan melampaui penggunaan energi global oleh Bitcoin pada akhir 2025.
Sementara itu, kebijakan pemerintah Amerika Serikat justru menimbulkan kekhawatiran baru. Presiden Donald Trump dilaporkan telah menandatangani perintah eksekutif yang mendorong penggunaan batu bara untuk mendukung pusat data AI. Salah satu contohnya adalah pembangunan pusat data berbahan bakar gas oleh Meta di Louisiana.
Meski sejumlah perusahaan seperti DeepSeek mengklaim tengah mengembangkan model AI yang lebih hemat energi, prospek penurunan emisi secara global masih dinilai jauh dari harapan. Ketergantungan pada energi fosil serta lonjakan permintaan teknologi membuat transisi menuju ekosistem AI yang berkelanjutan semakin kompleks.
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post