BogorOne.co.id | Kota Bogor – Kemajuan mekanisasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh semakin berkembangnya alat dan mesin pertanian (alsintan), tetapi juga oleh sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan, merawat, dan memastikan teknologi tersebut bekerja sesuai fungsinya.
Kebutuhan terhadap SDM yang kompeten tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Skema Teknisi Perawatan Pra Panen, Panen, dan Pasca Panen yang berlangsung di Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor pada 17–19 September 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kompetensi SDM di bidang sarana dan prasarana pertanian sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Sebanyak 15 peserta dari empat unit kerja Kementerian Pertanian mengikuti sertifikasi tersebut. Peserta berasal dari Polbangtan Bogor, Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), Puslatan, serta Pusat Penilaian dan Pengembangan Kompetensi ASN Pertanian (Pusbintan).
Dari jumlah tersebut, tujuh peserta merupakan SDM Polbangtan Bogor. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas internal sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga teknis dalam mengikuti perkembangan teknologi dan mekanisasi pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam mendukung pembangunan pertanian.
“Keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh kualitas SDM. Karena itu, kami terus mendorong peningkatan kompetensi melalui pelatihan dan sertifikasi yang terstandar,” tegas Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa pengembangan kualitas SDM perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi pertanian.
Menurutnya, sumber daya manusia pertanian perlu terus meningkatkan kemampuan agar dapat mengikuti perubahan teknologi dan kebutuhan sektor pertanian yang semakin dinamis.
Dalam mekanisasi pertanian, kebutuhan tersebut terlihat dari semakin beragamnya penggunaan mesin pada berbagai tahapan kegiatan. Tenaga teknis dituntut tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjaga agar peralatan tetap dalam kondisi siap digunakan.
Perawatan alsintan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemanfaatan teknologi. Pemeriksaan dan pemeliharaan yang dilakukan sesuai prosedur dapat membantu menjaga fungsi peralatan serta mendukung kesiapan mesin ketika dibutuhkan.
Dijelaskannya, di sinilah sertifikasi kompetensi memiliki peran. Selain menjadi bagian dari proses pengembangan SDM, sertifikasi memberikan ruang untuk mengukur kemampuan seseorang berdasarkan standar kompetensi pada bidang pekerjaan tertentu.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, mengatakan bahwa sertifikasi menjadi salah satu bagian penting dalam penguatan kompetensi sumber daya manusia pertanian.
Penguatan kompetensi melalui sertifikasi menjadi relevan bagi tenaga teknis yang berhadapan langsung dengan teknologi pertanian. Kemampuan yang dimiliki perlu disesuaikan dengan bidang tugas dan perkembangan teknologi yang digunakan di lapangan.
Dalam skema teknisi perawatan pra panen, panen, dan pasca panen, kompetensi yang dibutuhkan tidak berhenti pada satu tahapan kegiatan. Teknisi perlu memahami kebutuhan perawatan peralatan sesuai dengan fungsi dan penggunaannya.
Pada tahap pra panen, misalnya, kesiapan mesin menjadi bagian penting sebelum peralatan digunakan. Ketika memasuki tahap panen, kondisi alsintan perlu tetap dijaga agar dapat mendukung proses kerja. Sementara pada kegiatan pasca panen, peralatan juga membutuhkan pemeliharaan agar dapat digunakan kembali sesuai peruntukannya.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, mengatakan peningkatan kompetensi SDM menjadi bagian penting dalam mengikuti perkembangan teknologi dan mekanisasi pertanian.
“Kompetensi teknis perlu terus diperkuat seiring dengan perkembangan teknologi pertanian. Melalui sertifikasi, SDM memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan memastikan kompetensi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan pekerjaan,” kata Yoyon.
Sebagai institusi pendidikan vokasi, Polbangtan Bogor tidak hanya membutuhkan fasilitas dan teknologi pembelajaran, tetapi juga SDM yang memahami perkembangan teknologi pertanian. Penguatan kompetensi teknis menjadi salah satu bagian dari kebutuhan tersebut.
Keikutsertaan tujuh SDM Polbangtan Bogor dalam sertifikasi memberikan kesempatan bagi pegawai untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan bidang kompetensi yang diikuti. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut mempertemukan SDM dari sejumlah unit kerja Kementerian Pertanian dalam satu proses pengembangan kompetensi.
Bagi Polbangtan Bogor, penguatan kompetensi tersebut juga sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang menempatkan kemampuan praktik sebagai bagian penting dalam pengembangan SDM pertanian. (Adv)

























Discussion about this post