BogorOne.co.id | Cibinong – Tidak adanya panti rehabilitasi membuat Pemerintah Kebupaten Bogor kesulitan untuk memberantas bisnis esek-esek. Sehingga praktek bisnis lendir itu tetap ada.
Bahkan ribuan pelaku bisnis ini pun sudah kerap keluar masuk Mako Satpol-PP. Namun rupanya tidak ada efek jera, seminggu berhenti dan selanjutnya kembali lagi ke bisnis itu.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kabupaten Bogor, Cecep Imam Nagarasid mengatakan, mereka para Pekerja Seks Komersil (PSK) acap kali terkena razia yang dilaksanakan Pol-PP. Setelah di razia mereka hanya di data, dan selanjutnya dikirim ke panti rehabilitasi.
Namun, panti rehabilitasi yang berada di wilayah Sukabumi dan Cirebon rupanya tak mampu menerima lagi kiriman darimana-mana karena kapasitasnya tidak bisa menampung lebih banyak lagi.
“Akhirnya setelah di data, mereka (PSK) kembali dipulangkan ke rumahnya,” paparnya, Jumat 10 Maret 2023.
Lanjut dia, setelah para PSK yang terjaring di data dan dipulangkan urusannya selesai, tidak, mereka kembali ke jalan dan menjajakan diri lagi.
“Seharusnya, jika Pemkab Bogor memiliki panti atau penampungan bagi PSK, mereka mendapatkan pelatihan keterampilan, dan pendekatan secara agama, saya yakin untuk mereka kembali sangat kecil meski akan tetap ada,” terangnya.
Persoalan panti rehabilitasi ini yang saat menjadi persoalan di Kabupaten Bogor. Sehingga penanganan praktek prostitusi tidak pernah selesai.
Pemerintah Kabupaten sebenarnya fokus terhadap persoalan ini terlihat dari program Nongol Babad (Nobat) yang pernah digaungkan pada masa Rahmat Yasin dan dilanjutkan di era Ade Yasin.
“Hasilnya sejumlah lokalisasi sempat diratakan penegakan Perda pada masa itu,” ucapnya
Lanjut dia, meski razia PSK terus dilakukan tapi tidak ada tempat untuk penampungan itu akan percuma.
“Harusnya setelah di razia dititip ke tempat penampungan sampai mereka tidak lagi mau mengulangi perbuatannya sebagai PSK,” tuturnya
Ia menambahkan, bisnis ini akan semakin menjamur dengan bergesernya pola bisnis mereka dari cara-cara konvensional ke cara digital.
“Sekarang kan tidak di satu titik lokasi saja, tapi memanfaatkan aplikasi michat yang pergerakannya sudah ketebak, tapi kita sedang pelajari itu agar mereka tetap terjaring,” pungkasnya
Sementara, Ketua MUI Kabupaten Bogor, Kyai Mukri Aji menegaskan bahwa setiap aktivitas yang mengarah pada kemaksiatan harus dihentikan demi kenyamanan umat muslim beribadah.
“Menjelang puasa semua bentuk kegiatan dari mulai hiburan malam, minuman keras dan praktek prostitusi harus dihentikan,” tegasnya. (Yud)
























Discussion about this post