BogorOne.co.id | Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat pesawat keluar landasan (runway excursion) menjadi jenis kejadian paling dominan dalam kecelakaan dan kejadian serius penerbangan yang diinvestigasi sepanjang 2025.
Pelaksana Tugas Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Henry Poerborianto, mengatakan pihaknya telah melakukan 19 investigasi pada 2025 yang terdiri atas sembilan kecelakaan dan 10 kejadian serius.
“Dari 19 investigasi tersebut, kejadian yang paling banyak adalah pesawat keluar landasan atau runway excursion,” kata Henry, Rabu, 28 Januari 2026 dikutip dari beritasatu.com
Ia menjelaskan, runway excursion terjadi ketika pesawat tidak mampu berhenti secara aman di landasan atau keluar dari batas landasan saat lepas landas maupun mendarat.
Berdasarkan klasifikasi KNKT, dari total 19 investigasi pada 2025, runway excursion tercatat sebanyak tujuh peristiwa. Jenis kejadian terbanyak berikutnya adalah kegagalan sistem atau komponen mesin sebanyak tiga peristiwa dan kontak tidak normal dengan landasan (abnormal runway contact) sebanyak tiga peristiwa.
Selain itu, KNKT mencatat dua peristiwa terkait turbulensi, dua peristiwa pesawat dalam kendali pilot namun menabrak permukaan bumi atau controlled flight into terrain (CFIT), serta masing-masing satu peristiwa terkait bahan bakar dan layanan navigasi atau manajemen lalu lintas udara.
Dalam periode 2021–2025, Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT telah menginvestigasi 105 peristiwa penerbangan yang mencakup kecelakaan dan kejadian serius. Pada 2025, jumlah investigasi penerbangan tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total korban jiwa sebanyak 12 orang.
KNKT juga mencatat tiga peristiwa menonjol pada 2025, yakni kecelakaan helikopter Airbus H145 di Kalimantan Tengah, helikopter AS350B3 di Papua Tengah, serta kegagalan mesin pesawat GA 8 Airvan yang melakukan pendaratan darurat di Karawang.
Sepanjang 2025, Subkomite Penerbangan KNKT menyelesaikan enam laporan akhir investigasi dan menyiapkan tiga konsep laporan akhir yang masih dalam tahap konsultasi dengan pemangku kepentingan terkait.
Dari laporan yang telah diselesaikan, KNKT mengidentifikasi sejumlah isu keselamatan, di antaranya pemanfaatan data penerbangan untuk pemantauan kinerja pilot dan pesawat yang belum optimal serta kelemahan dalam implementasi prosedur operasional, seperti landing checklist dan pendekatan pendaratan tidak stabil.
“Sebagian operator sudah memiliki prosedur, tetapi pelaksanaannya belum selalu konsisten di lapangan,” ujar Henry.
Selain itu, pengelolaan kelelahan awak pesawat juga menjadi isu keselamatan yang dinilai perlu penguatan, baik dari sisi panduan teknis maupun pengawasan implementasi. Berdasarkan capaian sepanjang 2025, KNKT menerbitkan 16 rekomendasi keselamatan yang sebagian besar ditujukan kepada operator pesawat dan otoritas terkait.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan, rekomendasi keselamatan tersebut dikeluarkan untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa di masa mendatang.
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post