BogorOne.co.id | MADRID – Dunia bulu tangkis kehilangan salah satu ikon terbesarnya. Peraih medali emas Olimpiade asal Spanyol, Carolina Marin, resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia tepok bulu profesional pada Kamis, setelah perjuangan panjang melawan cedera lutut yang berulang.
Pemain berusia 32 tahun ini mengukir sejarah emas di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Hingga saat ini, Marin tetap memegang rekor sebagai satu-satunya pemain tunggal putri dari luar Asia yang berhasil naik ke podium tertinggi Olimpiade.
Marin, yang juga merupakan pemegang tiga gelar juara dunia, semula berharap bisa memberikan salam perpisahan di Kejuaraan Eropa bulan April mendatang yang digelar di Huelva—kota kelahirannya di Andalusia. Namun, setelah pertimbangan matang, ia memilih untuk tidak mengambil risiko yang bisa memperparah kondisi lututnya.
Momen emosional terakhirnya di lapangan terjadi pada Olimpiade Paris 2024. Saat itu, Marin sudah menginjakkan kaki di babak semifinal dan tampil dominan, sebelum cedera ligamen lutut (ACL) memaksanya tersungkur dan mundur dari laga. Tragedi ini seolah mengulang luka lama setelah ia juga terpaksa absen di Olimpiade Tokyo 2020 akibat cedera serupa.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Marin menyampaikan pesan yang menyentuh hati para penggemarnya:
“Perjalanan saya di bulu tangkis profesional telah berakhir. Saya sebenarnya sangat ingin kembali ke lapangan untuk terakhir kalinya, namun saya tidak ingin mempertaruhkan kesehatan saya demi hal itu…” tulis Marin.
Ia juga merefleksikan akhir kariernya yang tidak terduga di Paris. “Saya berharap karier saya berakhir dengan cara lain, tetapi hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Jauh di lubuk hati, saya menyadari bahwa saya sebenarnya sudah pensiun di lapangan Paris 2024, hanya saja kita semua belum mengetahuinya saat itu.”
Sepanjang kariernya, Marin dikenal dengan gaya mainnya yang agresif dan pantang menyerah. Selain emas Olimpiade 2016 setelah menumbangkan PV Sindhu di final, ia mencatatkan sejarah sebagai tunggal putri pertama yang meraih tiga gelar juara dunia (2014, 2015, dan 2018).
Dedikasinya telah mendobrak dominasi Asia di sektor tunggal putri dan menginspirasi generasi baru pebulu tangkis di Eropa dan seluruh dunia.
Editor : Muttaqien























Discussion about this post