BogorOne.co.id | Cianjur – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp 18.000 per dolar mulai berdampak pada pelaku usaha kecil di daerah. Salah satunya pabrik tahu goreng di Desa Langensari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, yang menghentikan produksi karena kenaikan harga bahan baku.
Pemilik pabrik tahu, Taufik Munandar, mengatakan usaha yang dikelolanya sudah berhenti beroperasi sekitar satu bulan terakhir. Menurut dia, lonjakan harga kedelai impor membuat biaya produksi meningkat hingga usaha tersebut tidak lagi memberikan keuntungan.
“Sudah sekitar sebulan berhenti produksi. Harga kedelai naik sampai Rp 11.000 per kilogram ditambah saat ini nilai tukar rupiah naik jadi Rp 18.000. Dengan kondisi seperti itu, usaha jadi tidak untung, malah rugi,” kata Taufik, Kamis, 4 Juni 2026.
Selain kedelai, kenaikan harga minyak goreng juga menambah beban biaya produksi. Taufik mengatakan harga minyak goreng yang sebelumnya sekitar Rp 19.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 22.000 hingga Rp 23.000 per kilogram.
“Minyak juga naik cukup tinggi. Itu yang membuat biaya produksi semakin berat,” ujarnya.
Akibat penghentian produksi tersebut, sekitar 15 pekerja dirumahkan sementara. Sebelum berhenti beroperasi, pabrik itu mengolah sekitar 1,5 kuintal kedelai per hari untuk memproduksi tahu goreng yang dipasarkan ke sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur, termasuk Pasar Muka dan Kecamatan Ciranjang.
Taufik berharap pemerintah memberikan perhatian kepada pelaku usaha tahu yang terdampak kenaikan harga bahan baku. Menurut dia, subsidi kedelai dan minyak goreng diperlukan agar usaha kecil dapat kembali beroperasi.
“Mudah-mudahan ada subsidi untuk kedelai dan minyak supaya harganya lebih terjangkau dan kami bisa produksi lagi,” katanya.
Penjabat Kepala Desa Langensari, Asep Misbah, membenarkan adanya satu pabrik tahu di wilayahnya yang menghentikan operasional sementara akibat tingginya harga bahan baku dan menurunnya penjualan.
“Di Desa Langensari terdapat lima perajin tahu. Namun saat ini satu pabrik milik Haji Ai tutup sementara karena harga kedelai cukup tinggi dan penjualan juga menurun,” kata Asep.
Menurut Asep, pemerintah desa telah meninjau langsung lokasi usaha tersebut. Dari hasil pengecekan, tingginya harga bahan baku serta lemahnya pemasaran membuat modal usaha habis sehingga produksi tidak dapat dilanjutkan.
Pemerintah desa, kata dia, akan mendata seluruh perajin tahu yang masih beroperasi. Data tersebut akan disampaikan kepada dinas perindustrian dan perdagangan sebagai bahan pertimbangan untuk pembinaan maupun bantuan bagi pelaku usaha.
“Kami akan melakukan pendataan seluruh perajin tahu dan melaporkannya ke dinas perindustrian dan perdagangan agar bisa menjadi bahan pertimbangan dalam upaya penanganan maupun bantuan bagi pelaku usaha,” ujarnya.
Penghentian produksi pabrik tahu di Cianjur menjadi salah satu dampak yang dirasakan pelaku UMKM yang masih bergantung pada bahan baku impor di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga komoditas.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post