BogorOne.co.id — Ruang pasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga berpotensi menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan kreativitas masyarakat.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Sertifikasi Kompetensi Skema Okupasi Barista di Bogor pada 8–11 Oktober 2026, dengan memanfaatkan ruang di lingkungan Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor sebagai tempat pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan ini menjadi contoh pendekatan placemaking, yaitu upaya mengoptimalkan ruang yang tersedia agar memiliki fungsi sosial dan ekonomi yang lebih luas. Melalui aktivitas pengembangan kompetensi, ruang pasar diharapkan dapat menjadi tempat bertemunya berbagai elemen masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha kreatif.
Dukungan Perumda Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor, menjadi bagian penting dalam kolaborasi pemanfaatan ruang tersebut. Sinergi ini membuka peluang bagi fasilitas publik yang telah tersedia untuk digunakan dalam kegiatan produktif, termasuk pengembangan sumber daya manusia di sektor ekonomi kreatif.
Dukungan terhadap kolaborasi lintas sektor juga disampaikan oleh Eko Prabowo, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Bogor. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Kota Bogor dapat terus berlanjut, sehingga kegiatan pengembangan kompetensi dan aktivasi ruang kreatif dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Harapan tersebut menegaskan pentingnya kesinambungan kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi lokal. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, ruang publik seperti pasar dapat dioptimalkan tidak hanya untuk mendukung aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, interaksi komunitas, dan pengembangan talenta ekonomi kreatif. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekraf.
Pemanfaatan ruang pasar sebagai tempat pelatihan juga memperlihatkan bahwa aktivasi ruang kreatif tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan fasilitas baru. Ruang yang telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat dapat dioptimalkan melalui program, kemitraan, dan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan sekitarnya.
Mengembangkan Kompetensi di Industri Kopi
Pelatihan dan sertifikasi kompetensi barista ini diselenggarakan melalui Program Flagship 2026 Aktivasi Creative Hub oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Melalui program ini, Kementerian Ekraf berupaya membuka akses bagi pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Penguatan kapasitas sumber daya manusia dinilai penting agar pelaku ekonomi kreatif memiliki kesiapan dan daya saing yang lebih baik dalam menghadapi kebutuhan industri. Dengan demikian, program tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan peserta, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem pengembangan talenta ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan di Kota Bogor berlangsung selama empat hari, tiga hari pelatihan berbasis kompetensi dan satu hari asesmen sertifikasi kompetensi. Peserta memperoleh pembelajaran dan praktik untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap kerja yang dibutuhkan dalam profesi barista sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan, peserta mengikuti asesmen sesuai skema dan ketentuan lembaga sertifikasi profesi yang berwenang. Sertifikat kompetensi diberikan kepada peserta yang dinyatakan kompeten berdasarkan hasil asesmen.
Pengembangan kompetensi ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di subsektor kuliner, khususnya profesi barista yang menjadi bagian dari rantai usaha industri kopi.
Peserta Harapkan Sertifikasi Membuka Peluang Kerja
Manfaat pelatihan ini juga dirasakan oleh Reyhan Sudrajat, seorang barista asal Bogor yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman kepada para barista mengenai standar kompetensi nasional yang perlu dimiliki untuk menjalankan profesinya.
Pemahaman terhadap standar kompetensi tersebut dinilai penting agar barista tidak hanya mengandalkan pengalaman praktik, tetapi juga mengetahui kompetensi yang menjadi acuan dalam profesinya. Dengan demikian, pelatihan dan sertifikasi dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kerja di industri kopi.
Reyhan juga berharap sertifikat kompetensi yang diperolehnya dapat menjadi nilai tambah dalam perjalanan kariernya dan membantu membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Harapan ini mencerminkan pentingnya pengembangan kompetensi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada perluasan kesempatan kerja bagi para pelaku ekonomi kreatif.
Kolaborasi Membuka Fungsi Baru Ruang Publik
Kolaborasi dengan Pemerintah Kota Bogor melalui pemanfaatan area Perumda Pasar Pakuan Jaya menunjukkan peluang pemanfaatan ruang publik untuk mendukung aktivitas di luar fungsi utamanya. Pasar dapat menjadi tempat berlangsungnya pelatihan, pertukaran pengetahuan, interaksi komunitas, hingga kegiatan pengembangan kapasitas pelaku ekonomi kreatif.
Pendekatan ini juga membuka ruang bagi pengelola pasar dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun aktivitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan program yang tepat, ruang publik dapat menjadi bagian dari infrastruktur pendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.
Pengalaman di Bogor ini memperlihatkan bahwa pengembangan ekosistem kreatif dapat dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dan optimalisasi fasilitas yang sudah tersedia. Selain meningkatkan kompetensi peserta, pemanfaatan ruang pasar untuk kegiatan kreatif juga menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana ruang publik dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Ke depan, Kementerian Ekraf akan selalu bersinergi dan berkolaborasi dengan heksahelix agar terwujud penguatan ekosistem ekraf di berbagai daerah tentunya dengan menyesuaikan karakter ruang, kebutuhan komunitas, serta potensi subsektor ekonomi kreatif setempat.
Editor : Muttaqien
























Discussion about this post