Oleh karenanya ia berharap dukungan Pemerintah Kota Bogor untuk menjadikan event ini masuk ke dalam “calender of event”-nya Kota Bogor atau bahkan nasional. Juga berharap event ini dapat membantu pemulihan ekonomi lewat perluasan kesempatan kerja, penguatan UMKM khususnya tanaman hias, serta peningkatan sektor pariwisata tanaman hias.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengibaratkan Bogor Flora Festival sebagai ‘lebarannya’ para petani, pecinta, penggemar dan pemulia tanaman hias. Festival ini sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi di era pandemi dan menyisakan tiga usaha yang selamat, masing-masing sport equipment, healthy, food and drink dan tanaman hias.

Potensi ekonomi dari tanaman hias dunia kata Dedie, ada sekitar puluhan hingga ratusan triliun per tahun, dan Indonesia baru berhasil mengekspor tanaman hias kurang lebih di angka 170 miliar per tahun.
“Ini menjadi potensi yang bisa dikedepankan untuk menambah potensi perputaran ekonomi Indonesia, yang pasti jangan hanya Tomohon yang selama ini dikenal sebagai daerah yang dikenal memiliki festival tanaman hias. Ke depan Bogor juga harus memiliki lebarannya para penggemar tanaman hias,” katanya.
Menurut Dedie bicara potensi flora, ada hal yang membedakan Kota Bogor dengan kota-kota lain, khususnya di Jawa Barat. Bogor memiliki banyak potensi tanaman hias, antara lain memiliki puluhan lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta pemulia tanaman.























Discussion about this post