BogorOne.co.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah berbalik melemah pada perdagangan Jumat siang, 10 April 2026, setelah sempat dibuka menguat di awal sesi. Tekanan eksternal membuat mata uang domestik tak mampu mempertahankan penguatan.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, rupiah turun 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp 17.113 per dolar Amerika Serikat. Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat menguat 7 poin ke posisi Rp 17.083 per dolar AS, dibanding penutupan sehari sebelumnya di Rp 17.090.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi memanas setelah Iran dilaporkan kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz, bersamaan dengan berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar global. Investor cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian yang meningkat.
“Pelaku pasar masih mencermati perkembangan di Timur Tengah karena gencatan senjata antara AS dan Iran dinilai masih rapuh menjelang perundingan damai di Pakistan,” ujar Josua.
Eskalasi konflik turut memperburuk sentimen setelah serangan Israel ke Lebanon dilaporkan menimbulkan ratusan korban jiwa. Situasi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat kecenderungan risk-off di pasar keuangan.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026. Sejumlah pejabat bank sentral AS membuka ruang kebijakan suku bunga yang lebih fleksibel, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga tetap ada jika inflasi belum mereda.
Menurut Josua, mayoritas anggota FOMC menilai risiko inflasi dan pelemahan pasar tenaga kerja masih tinggi, bahkan meningkat di tengah konflik global. Kenaikan harga energi akibat konflik dinilai berpotensi menekan inflasi inti secara lebih persisten.
Indeks dolar AS pada saat yang sama tercatat menguat tipis 0,05 persen ke level 98,8, menambah tekanan terhadap rupiah.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.125 per dolar AS, seiring pasar menanti perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post