BogorOne.co.id | Tamansari – Dalam upaya pemulihan ekonomi dampak dari pendemi, pemerintah pusat membuat program, yakni ketahanan pangan baik di Provinsi, Kabupaten dan Kota. Salah satunya Desa Sirnagalih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
“Tentunya ini merupakan salah satu program pemerintah pusat, yang di amanahkan kepada seluruh pemerintah desa melalui pemanfaatan dana desa (DD) melalui program ketahan pangan di wilayah Desa Sirnagalih.
“Secara kebetulan tujuan di bentuk ketahanan pangan sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat, kaitannya dengan dampak pandemi,” ujar kepala Desa Sirnagalih Amat Suparta.
Jelang selesai masa pandemi di tindak lanjuti dengan bagaimana caranya sektor pemulihan ekonomi bisa di tangani oleh ketahanan pangan ini, dimana ketahanan pangan ini, banyak hal yang memang harus dilakukan oleh pemdes terutama kaitan dengan masalah dengan melibatkan masyarakat dalam hal ini.

“Secara kebetulan Desa Sirnagalih setelah mengalokasikan anggaran program ketahanan pangan, kita membuat satu lokasi dengan memanfaatkan pemberdayaan hewani, yaitu budidaya ikan nila,” ucapnya.
Lanjut Amat, dilokasi kita sudah membangun 30 kolam ikan dengan sistim bioplok, yang satu kolamnya dengan diameter 4 meter. Dengan target dan sasaran 30 ribu benih yang kita tebar.
Diakui dia, bahwa pekerjaannya saat ini sudah selesai. Pada hari Sabtu telah melaunching penebaran benih dengan mengundang Muspika Tamansari. Yang selanjutnya fokus kepada mekanisme pengelolaan. Sehingga harapannya dengan kurun waktu 4 sampai 5 bulan itu, kita bisa melaksanakan panen raya.
Dari hasil panen kita coba kelola, dengan melibatkan beberapa pihak dalam hal ini, kelompok wanita tani (KWT), dan kelompok tani masyarakat. Sehingga bisa memberdayakan masyarakat untuk pemulihan ekonomi disana.

“Tentu ini sepadan dengan tujuan pemerintah, bahwa ketahanan pangan bisa sebuah solusi perbaikan di sektor ekonomi masyarakat,” papar Amat.
Program awal kegiatan ini, kita melibatkan TPK. Karena di sirnagalih ini, kaitan pemberdayaan hewani kita proses dari awal, mulai dari kesiapan lahan, pembuatan kolam, mekanisme pengelolaan dengan mengunakan sistem.
“Tentunya kita melibatkan dari pihak terkait dalam hal ini APP perikanan Cikakret, dan kebetulan nanti tindak lanjutnya ada mahasiswa yang akan magang disitu untuk memberikan penyuluhan dan pengelolaan ikan air tawar,” ungkapnya.
Menurut Amat, anggaran yang kita alokasikan sebesar 20 persen dari anggaran dana desa (DD). Jadi total anggaran yang kita gelontorkan program ketahanan pangan ini sebesar 230 juta. “Disitu kita juga membutuhkan beberapa pemenuhan kebutuhan seperti, pakan, petugas jaga, dan kelompok tani.
Setelah panen ada proses pengelolaan dari hasil tersebut dijadikan ikan olahan yang di packaging, kita bisa jual ke masyarakat, maupun pasar tradisional yang ada di sekitar kita,” bebernya.
Kedepan pada tahun 2023 sektor ketahanan pangan masih ada. Kita akan masukan sebuah edukasi budidaya ikan yang bisa dipahami oleh masyarakat, serta dijadikan kawasan wisata lokal.
“Tidak menutup kemungkinan kita menyiapkan di sektor lain yaitu, menanam sayuran dan peternakan kambing,” sambungnya.
Dengan harapan, adanya program ketahanan pangan ini, kita memanfaatkan sumber daya manusia yang ada, dari dampak pandemi banyak yang nganggur kita masukkan kedalam kelompok tani sehingga mereka bisa berdaya dan memiliki sebuah kegiatan
“Dan kita sepakat pemerintah pusat, jadi ketahanan pangan ini sebuah solusi untuk penanganan yang terdampak pandemi sektor ekonomi,” pungkasnya. (Yud)
























Discussion about this post