BogorOne.co.id | Jakarta – Industri media di Indonesia menghadapi tekanan berat yang ditandai dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak awal 2024. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap masa depan media sebagai pilar keempat demokrasi.
Menurut pengamat media dan akademisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Ignatius Haryanto, ada tiga penyebab utama krisis yang melanda industri media saat ini, yaitu struktur pasar yang terlalu padat, disrupsi digital yang belum diantisipasi dengan serius, serta meningkatnya kecenderungan media menjadi partisan sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat.
“Pasar kita ini terlalu sempit diisi oleh 10 sampai 15 televisi yang bersiaran secara nasional,” ujar Ignatius Haryanto dalam wawancara di Program Investor Daily Talk, Jumat (16/5/2024).
Ia menambahkan, dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Australia yang hanya memiliki tiga hingga empat stasiun TV nasional namun didukung media lokal yang kuat, pasar media Indonesia terlalu padat dan kurang beragam.
Ignatius juga menyoroti disrupsi digital sebagai masalah serius yang belum ditangani dengan baik oleh pelaku industri.
“Terobosan-terobosan kreatif ini kelihatannya memang belum ditemukan,” katanya. Akibatnya, banyak media tertinggal dalam inovasi model bisnis dan distribusi konten digital.
Masalah ketiga yang diangkat adalah media yang semakin partisan, terutama menjelang momen politik seperti pemilu. Hal ini menyebabkan krisis kepercayaan publik terhadap media konvensional dan beralih ke platform lain yang dianggap lebih netral.
“Sejumlah stasiun televisi kita itu adalah media partisan, membuat masyarakat ogah menonton siaran televisi,” kata Ignatius.
Kondisi ini dianggap sebagai sinyal bahaya bagi keberlangsungan industri media di Indonesia dan perannya dalam menjaga demokrasi.
























Discussion about this post