BogorOne.co.id | Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi pelajar yang mulai diluncurkan pemerintah pada Juli 2025 mendapat respons positif dari kalangan akademisi. Inisiatif ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat pendekatan promotif dan preventif di sektor kesehatan nasional.
Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Dede Nasrullah, menilai program ini relevan karena berfokus pada deteksi dini masalah kesehatan di kalangan anak usia sekolah.
“Dengan pendekatan promotif-preventif, kita bisa mengetahui lebih awal masalah kesehatan pada anak usia sekolah, sehingga intervensi bisa dilakukan sebelum berkembang menjadi persoalan serius,” ujar Dede Nasrullah, dikuti dari beritasatu.com, Rabu (2/7/2025).
Dede, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UM Surabaya, turut menyoroti pentingnya kesehatan jiwa pelajar. Ia menyebut masih banyak kasus gangguan mental pada remaja yang tidak terdeteksi meski prevalensinya cukup tinggi di lingkungan sekolah.
“Kesehatan mental harus menjadi bagian integral dari program ini. Masih banyak siswa yang mengalami stres, kecemasan, atau depresi tanpa diketahui guru atau orang tua,” katanya.
Meski menyambut baik program CKG, Dede mengingatkan bahwa kesuksesan pelaksanaan sangat bergantung pada manajemen yang matang dan menyeluruh, terutama di daerah padat seperti Jakarta dan Surabaya. Ia menekankan pentingnya prinsip pemerataan dalam pelaksanaan program tersebut.
“Prinsipnya no one left behind. Semua anak, termasuk di pelosok dan daerah terpencil, harus mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan gratis dan berkualitas,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa program CKG menargetkan lebih dari 53 juta pelajar dari jenjang SD hingga SMA, yang tersebar di 282 ribu sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia. Program ini ditargetkan mencakup hingga 280 juta pemeriksaan kesehatan.
Pelaksanaan program dilakukan melalui dua skema utama, yakni pemeriksaan di puskesmas dan secara langsung di sekolah. Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta puskesmas dan tenaga medis setempat.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post