BogorOne.co.id | Jakarta – Pemerintah mengambil langkah antisipatif setelah Selat Hormuz, jalur energi dunia, ditutup akibat konflik di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan minyak mentah dan bahan bakar tetap stabil bagi kebutuhan nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Dewan Energi Nasional, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk jika konflik berkepanjangan.
“Karena itu, kami mengambil skenario terburuk. Jika konflik berkepanjangan, maka sebagian impor crude dari Timur Tengah akan kita alihkan ke Amerika untuk memastikan kepastian pasokan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Bahlil menambahkan, impor solar tahun ini sudah rampung, sedangkan impor bensin RON 90, 93, 95, dan 98 tidak berasal dari Timur Tengah.
“Alhamdulillah, impor BBM jenis ini berasal dari negara lain, termasuk Asia Tenggara. Jadi relatif tidak ada masalah,” katanya.
Pemerintah juga memantau pasokan LPG yang saat ini sekitar 7,3 juta ton per tahun, diproyeksikan naik menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persen pasokan berasal dari Amerika Serikat dan 30 persen dari Timur Tengah, khususnya Saudi Aramco.
“Mengingat dinamika yang terjadi, kita juga melakukan penyesuaian agar tidak mengambil risiko terlalu besar, dengan mengalihkan sebagian pasokan ke negara lain yang tidak terkait Selat Hormuz,” pungkas Bahlil.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post