BogorOne.co.id | Cijeruk – Pengadaan lahan untuk pembangunan SMP Negeri 2 Cijeruk, Kabupaten Bogor, kembali menjadi sorotan. Meski berulang kali diusulkan melalui reses DPRD dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), hingga kini rencana tersebut belum juga terealisasi.
Kondisi itu memicu kekecewaan masyarakat. Keterbatasan sarana pendidikan dan jauhnya akses menuju sekolah dinilai menjadi salah satu kendala yang dihadapi warga. Bahkan, angka anak putus sekolah di Kecamatan Cijeruk disebut mencapai sekitar 1.600 anak.
Persoalan tersebut kembali disuarakan dalam kegiatan reses DPRD Kabupaten Bogor Daerah Pemilihan (Dapil) III Masa Sidang I Tahun 2026–2027 yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Cijeruk, Kamis 15 Oktober 2026. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera memberikan kepastian terkait pengadaan lahan untuk pembangunan SMPN 2 Cijeruk.
Tokoh masyarakat Kecamatan Cijeruk, H. Saepulloh, mengungkapkan kekecewaannya karena usulan tersebut telah berulang kali disampaikan, tetapi belum juga mendapatkan realisasi.
“Ini seperti dianaktirikan. Setiap reses diusulkan, tetapi belum juga direalisasikan. Jangan heran tingginya angka anak putus sekolah karena banyak penyebab, salah satunya jarak dan kurangnya fasilitas pendidikan,” kata Saepulloh.
Menurutnya, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sekolah, tetapi juga kemudahan akses bagi anak-anak. Jarak yang cukup jauh menuju sekolah menjadi kendala tersendiri, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bogor segera mengambil langkah konkret untuk merealisasikan pengadaan lahan tersebut. Pembangunan sekolah baru dinilai mendesak agar anak-anak di Kecamatan Cijeruk memiliki kesempatan lebih besar untuk melanjutkan pendidikan.
Saepulloh juga menyoroti kondisi sosial ekonomi masyarakat Cijeruk yang disebut sebagai kecamatan termiskin ketiga di Kabupaten Bogor. Menurutnya, pemerataan fasilitas pendidikan menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membuka peluang bagi generasi muda memperbaiki taraf hidup keluarga.
Sementara itu, Camat Cijeruk, Sobar Mansoer, membenarkan bahwa persoalan anak putus sekolah menjadi salah satu perhatian di wilayahnya. Ia menyebut jumlah anak putus sekolah di Kecamatan Cijeruk mencapai sekitar 1.600 anak.
Menurut Sobar, jauhnya akses menuju sekolah menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian serius. Karena itu, pihak kecamatan berharap usulan pengadaan lahan untuk pembangunan SMPN 2 Cijeruk segera direalisasikan.
Keberadaan sekolah yang lebih dekat dengan permukiman warga diharapkan dapat mempermudah akses pendidikan sekaligus mengurangi hambatan bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Di tempat yang sama, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Bogor, Heri Arisandi, menyatakan akan mengawal aspirasi masyarakat Kecamatan Cijeruk terkait pengadaan lahan tersebut.
Ia meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor segera menindaklanjuti tahapan persiapan pengadaan lahan. Setidaknya, proses penilaian oleh tim appraisal diharapkan dapat diselesaikan tahun ini sebagai dasar penawaran harga tanah.
Dengan demikian, tahapan pengadaan lahan diharapkan segera berjalan sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
Masyarakat berharap aspirasi yang kembali disampaikan dalam reses tersebut tidak sekadar menjadi catatan, tetapi benar-benar ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.
Bagi warga Cijeruk, pengadaan lahan SMPN 2 bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan kebutuhan mendasar untuk memperluas akses pendidikan bagi generasi penerus. Warga kini menanti kepastian agar rencana yang telah bertahun-tahun diperjuangkan tidak kembali berhenti pada tahap usulan.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : Muttaqien






















Discussion about this post