BogorOne.co.id | Kota Bogor – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat sebanyak 625 anak usia 7–17 tahun terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa sepanjang 2025. Data tersebut diperoleh dari hasil skrining terhadap 27.599 anak di wilayah itu.
Dari jumlah tersebut, 130 anak terdeteksi mengalami gejala kecemasan dan 136 anak menunjukkan gejala depresi.
“Kelompok usia ini memang sangat rentan. Karena itu isu kesehatan mental menjadi atensi serius bagi kami,” kata perwakilan Dinkes Kota Bogor, Bai Kusnadi, Rabu, 11 Februari 2026.
Sebagai langkah penanganan, Dinkes Kota Bogor telah membentuk seksi khusus yang menangani kesehatan jiwa dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA). Selain itu, dinas tersebut tengah menyiapkan pengaktifan kembali Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) untuk memperkuat koordinasi lintas sektor.
Bai mengatakan penanganan kesehatan jiwa anak membutuhkan kolaborasi sejumlah instansi, antara lain Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), PKK, serta Dinas Sosial.
“Harus ada keterpaduan lintas sektor. Kalau TPKJM aktif di tingkat kota, ini akan menjadi dukungan kebijakan yang kuat untuk penanganan dari hulu,” ujarnya.
Saat ini, sebanyak 25 puskesmas di Kota Bogor telah disiagakan dengan tenaga kesehatan terlatih untuk melakukan deteksi dini dan layanan konseling. Untuk penanganan lanjutan, Dinkes bekerja sama dengan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi sebagai rumah sakit rujukan.
Selain layanan kuratif, Dinkes juga menggencarkan program edukasi melalui kegiatan “Goes to School” dan “Goes to Campus”. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa dan mahasiswa mengenai kesehatan mental serta akses layanan konseling.
“Kami ingin siswa dan mahasiswa tahu bahwa jika mengalami kondisi tertentu, mereka bisa datang ke puskesmas untuk mendapatkan layanan konseling,” kata Bai.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post