BogorOne.co.id | New Jersey – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat memicu keresahan di kalangan masyarakat. Sebagian warga yang sebelumnya mendukung Donald Trump dalam pemilihan presiden 2024 mulai mempertanyakan janji pemerintah untuk menurunkan biaya hidup, terutama setelah harga bensin melonjak di tengah eskalasi militer terhadap Iran.
Kelly Sharp, petugas stasiun pengisian bahan bakar di Gloucester City, mengaku kecewa dengan situasi tersebut. Ia sebelumnya memilih Trump dengan harapan kondisi ekonomi lebih stabil.
“Trump berjanji akan menurunkan harga, tetapi pada akhirnya dia gagal melakukannya. Semuanya malah naik,” kata Sharp, akhir pekan lalu.
Di Gloucester City, harga bensin tercatat sekitar 3,15 dollar AS per galon atau sekitar Rp 58.000. Sementara itu, data perusahaan pemantau harga bahan bakar GasBuddy menunjukkan rata-rata harga bensin nasional di Amerika Serikat mencapai 3,46 dollar AS per galon. Angka ini naik dari bulan sebelumnya yang berada di kisaran 2,89 dollar AS per galon.
Lonjakan harga terjadi setelah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Pada perdagangan pagi ini, harga minyak mentah Brent melonjak 15,5 persen menjadi 107,07 dollar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 16,8 persen menjadi 106,17 dollar AS per barel.
Harga tersebut menjadi yang tertinggi sejak konflik di Ukraina pecah pada awal 2022.
Selain persoalan ekonomi, Sharp juga menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik tersebut. Ia menyebut serangan udara yang terjadi di Iran menimbulkan korban sipil.
“Saya marah tentang ini dan tentang apa yang dia lakukan. Sungguh memilukan bahwa anak-anak dibunuh,” ujarnya.
Kenaikan harga BBM juga dirasakan para pekerja sektor transportasi. Mario Pinzon (47), pengemudi ojek daring di Denver, mengatakan pendapatannya terancam turun hingga 20 persen karena harga bensin kini mencapai sekitar 3,25 dollar AS per galon.
“Bulan lalu harga bensin masih terjangkau, tetapi sekarang naik karena situasi di Timur Tengah,” kata Pinzon yang bekerja 10 hingga 12 jam setiap hari.
Kenaikan harga bahan bakar tersebut juga memicu peningkatan biaya pengiriman barang dan harga pangan, sehingga menekan daya beli masyarakat Amerika Serikat.
Menanggapi situasi itu, Presiden Trump mengatakan kenaikan harga minyak merupakan “harga kecil yang harus dibayar” demi menjaga perdamaian dunia. Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan pemerintah akan memastikan keamanan jalur pelayaran tanker di Selat Hormuz guna menjaga stabilitas pasokan energi dan menekan harga bensin.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post