BogorOne.co.id | Leuwiliang – Sungai Cianten yang membelah kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) hingga mengalir membelah wilayah Kecamatan Pamijahan, Leuwiliang, Rumpin, sampai Tangerang Banten, memiliki panjang 49,2 Km dengan luas daerah aliran sungai (DAS) mencapai 426,6 Kilometer persegi.
Saat ini, manfaat sungai Cianten diperkirakan banyak membantu kebutuhan air bagi ratusan ribu jiwa bahkan lebih, sedangkan dari catatan jumlah jiwa yang tercatat pada data pelanggan aktif di Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Kahuripan Cabang Leuwiliang Kabupaten Bogor, yang terkonsentrasi pada pemanfaatan aliran sungai Cianten, menembus angka 12.311 pelanggan aktif, atau ditaksir meliputi sekitar 55.543 jiwa yang tersebar di 4 wilayah kecamatan, yakni Leuwiliang, Leuwisadeng, Cibungbulang dan Kecamatan Ciampea.
Sayangnya, upaya penataan serta penanganan kawasan aliran sungai Cianten dengan seringnya tebingan bantaran sungai tersebut dilanda longsor, sampai saat ini dirasakan belum maksimal.
“Benar, kami merasa kesulitan melakukan antisipasi Penjernihan terhadap kekeruhan air sungai Cianten yang cukup parah akibat longsor, sehingga selalu saja menjadi penyebab keruhnya air ledeng yang mengalir kerumah pelanggan,” ungkap Dany Prasetya Manager Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Cabang Leuwiliang, Senin 11 Mei 2026.
Akibat seringnya Curah hujan tinggi menjadi penyebab longsor tebing di hulu maupun di sepanjang aliran sungainya longsor Sambung Dany, maka pada kondisi NTU (Nephelometric Turbidity Unit) atau kekeruhan airnsangat tinggi, sulit bagi pihaknya untuk menetralisir air agar mencapai jernih yang maksimal.
“Kendalanya adalah Faktor usia instalasi harus diremajakan, seperti
reservoir ditambah dan diremajakan. contohnya saja pada keruhnya air sungai Cianten yang terjadi pada beberapa waktu lalu akibat longsor, tak kurang selama 10 hari air ledeng yang mengalir kerumah pelanggan alami kekeruhan sehingga membuat pelanggan datang ke kantor cabang untuk melakukan aksi protes,” tandasnya
Terpisah, Ujang Andi warga Kampung Pasir Angin menambahkan bahwa Sungai Cianten memiliki catatan sejarah panjang yang kelam.
“Selain Airnya banyak membantu masyarakat penghuni bantarannya, sungai Cianten dahulu kala pernah dijadikan tempat menghanyutkan jenazah warga yang tinggal dipesisir yang ritualnya dilakukan di Situs Batu Monolith Museum Pasir angin, termasuk sebagai saksi bisu pembataian 620 tetara Jepang oleh Sekutu dan Belanda dibawah Jembatan Leuwiliang,” tandasnya.
Editor : Jef Sukapura























Discussion about this post