BogorOne.co.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.23 WIB, rupiah berada di level Rp 17.613 per dolar AS atau turun 0,48 persen dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp 17.529 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah sempat mereda menjelang siang. Pada pukul 12.10 WIB, rupiah bergerak ke level Rp 17.595 per dolar AS. Namun, pada pukul 12.38 WIB, mata uang domestik kembali berada di kisaran Rp 17.600 per dolar AS.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS serta kenaikan harga minyak dunia yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Hari ini dolar menguat cukup tajam, kemudian harga minyak pun juga naik dan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah,” kata Ibrahim kepada Beritasatu.com, Jumat, 15 Mei 2026.
Harga minyak dunia tercatat menguat pada perdagangan Jumat. Mengacu laporan CNBC, minyak mentah Brent kontrak Juli naik 1,49 persen menjadi US$ 107,30 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni menguat 1,55 persen ke level US$ 102,74 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim Cina sepakat membeli minyak mentah dari AS setelah pertemuannya dengan Presiden Cina Xi Jinping di Beijing.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut memberi tekanan tambahan bagi rupiah karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah. Ia juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global.
Hubungan AS dan Iran disebut kembali memanas setelah Iran menggelar latihan militer besar di kawasan Selat Hormuz. Situasi itu memicu kekhawatiran negara-negara di kawasan, seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi. Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia sehingga gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi.
Ketidakpastian pasar turut meningkat setelah kapal kargo India yang berlayar dari Afrika menuju Uni Emirat Arab dilaporkan tenggelam di lepas pantai Oman pada Rabu lalu.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Ibrahim menilai Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Bank Indonesia terus melakukan intervensi. Tadi pagi di Rp 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah Rp 17.600,” ujarnya.
Selain faktor global, Ibrahim menyebut besarnya subsidi energi turut menjadi beban bagi rupiah. Tingginya impor minyak mentah untuk kebutuhan bahan bakar bersubsidi dinilai meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
“Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk melakukan subsidi terhadap minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan mata uang rupiah,” kata dia.
Ia menyebut sekitar 85 persen impor minyak mentah Indonesia digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak masyarakat.
Menurut Ibrahim, rupiah masih berpotensi melemah apabila tekanan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan tensi geopolitik global belum mereda dalam waktu dekat. Ia memperkirakan rupiah dapat menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Mei ini.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post