BogorOne.co.id | Kota Bogor – Sedikitnya 50 kepala keluarga (KK) di RT 01 RW 12, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor mulai mengalami krisis air bersih akibat kemarau. Sumur-sumur warga mengering setelah hujan tak turun selama beberapa hari, memaksa mereka membeli air untuk kebutuhan konsumsi dan mengandalkan mandi di fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) umum.
Salah seorang warga, Unna, 54 tahun, mengatakan sumur di lingkungannya hampir selalu mengering setiap musim kemarau. Menurut dia, kondisi itu terjadi ketika hujan berhenti sekitar sepekan.
“Kalau sudah tidak ada hujan seminggu saja, di sini sudah tidak ada air. Sumurnya sudah enggak bisa dipakai. Harus hujan terus sekitar seminggu baru air di dalam sumur kembali,” kata Unna.
Untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum, keluarganya membeli dua galon air isi ulang setiap hari dengan harga Rp7.000 per galon. Sementara kebutuhan mandi dipenuhi dari air MCK umum.
“Anak-anak sampai capek karena setiap hari harus bolak-balik mengambil air. Biasanya habis Maghrib mereka sudah menyiapkan air untuk dipakai besok pagi sebelum berangkat sekolah,” ujarnya.
Menurut Unna, kondisi MCK juga mulai terdampak karena debit air tanah terus menurun. Air yang mengalir berwarna kekuningan dan keruh, bahkan sesekali berhenti sama sekali.
“Kadang-kadang air di MCK juga surut sampai habis. Dulu sempat ditawari pasang PDAM, tapi kebanyakan warga menolak karena waktu itu sumurnya masih bagus,” katanya.
Ketua RT 01 RW 12, Iskandar, mengatakan kekeringan mulai dirasakan warga secara bertahap dalam dua bulan terakhir. Dari sekitar 185 KK di wilayahnya, sekitar 50 KK yang berada di bagian bawah menjadi kelompok paling terdampak.
“Di bagian atas masih aman. Kekeringan ini hanya terjadi di RT 01, sedangkan RT 02 tidak terdampak,” ujar Iskandar.
Ia menjelaskan, mayoritas warga masih bergantung pada sumur sebagai sumber air utama. Ketika muka air tanah turun, pasokan menuju MCK ikut berkurang.
“Kami sempat mengira mesin atau pipa MCK rusak, sampai warga kerja bakti memperbaikinya. Setelah dicek, ternyata sumber air tanahnya memang sudah surut. Ada kemungkinan air di MCK juga bisa habis total,” katanya.
Menurut Iskandar, air MCK hanya digunakan untuk mandi dan mencuci karena kualitasnya tidak layak dikonsumsi. Warga tetap harus membeli air isi ulang untuk memasak dan minum sehingga menambah pengeluaran rumah tangga selama musim kemarau.
Selama ini bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor disalurkan berdasarkan permintaan melalui kelurahan. Namun, distribusinya belum bisa dilakukan setiap hari.
Karena itu, warga berharap Pemerintah Kota Bogor menyediakan tangki penampungan air permanen agar mobil tangki dapat mengisi cadangan air setiap saat. Mereka juga meminta penambahan fasilitas MCK untuk mengurangi antrean warga.
“Kalau distribusi air bisa rutin minimal dua hari sekali, itu sudah sangat membantu,” kata Iskandar.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post