BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Kolong flyover di Cileungsi, Kabupaten Bogor, menjadi medium kritik terhadap kerusakan lingkungan. Lewat mural seluas lima meter persegi, seniman Dwi Yanto Suharto alias Dwi Ope menggambarkan kehancuran habitat satwa, kebakaran hutan, hingga pengorbanan relawan pemadam kebakaran.
Karya itu hadir di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan dan sejumlah wilayah lain. Bagi Dwi, mural tersebut bukan sekadar penghias ruang publik, melainkan epigraf kemarahan sekaligus ratapan alam atas eksploitasi lingkungan oleh manusia.
“Karya ini merangkum penderitaan multidimensional, lenyapnya fauna endemik, gugurnya pejuang relawan pemadam kebakaran di medan juang, serta pengkhianatan terhadap mandat ekologis bangsa,” ujar Dwi kepada Radar Bogor, Selasa, 27 Oktober 2026.
Menurut Dwi, pembangunan dan modernitas tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi ekologis. Dampaknya, kata dia, bukan hanya dirasakan oleh makhluk hidup yang kehilangan habitat, tetapi juga mengancam generasi mendatang.
“Ada harga mahal yang dibayar oleh Ibu Pertiwi dan anak cucu kita kelak,” ujarnya.
Salah satu elemen utama mural itu adalah induk orang utan yang menggendong anaknya di tengah kobaran api. Adegan tersebut menggambarkan satwa yang kehilangan tempat berlindung akibat kebakaran hutan.
Dwi menyebut orang utan sebagai umbrella species atau spesies payung. Keberadaan satwa ini, menurut dia, berkaitan erat dengan kelestarian ekosistem yang lebih luas.
“Orang utan adalah umbrella species (spesies payung), ketika mereka terbakar di dalam rumahnya sendiri, itu adalah indikator runtuhnya seluruh ekosistem hutan hujan tropis,” kata dia.
Simbol kematian dan kehilangan juga hadir melalui lingkaran yang menggambarkan surga kecil. Dwi memaknainya sebagai tujuan akhir menuju kehidupan abadi yang dicapai melalui kematian.
Pesan itu diperkuat tulisan “Terima Kasih Tuhan, Kami Pulang”. Ungkapan yang biasanya menggambarkan kehangatan kepulangan tersebut justru digunakan untuk menyampaikan ironi atas kematian makhluk hidup akibat kerusakan lingkungan.
“Kembalinya makhluk-makhluk malang ini kepada Sang Pencipta akibat keserakahan manusia, mereka terpaksa pulang karena bumi mereka telah hangus terbakar,” ucapnya.
Mural itu juga menampilkan siluet relawan pemadam kebakaran. Sosok tersebut menjadi representasi orang-orang yang berjuang di garis depan menghadapi karhutla, termasuk mereka yang gugur atau mengalami kelelahan saat bertugas.
“(Mereka) berjuang melawan musuh tak kasat mata di tengah keterbatasan,” kata Dwi.
Kritik terhadap kondisi lingkungan dan tanggung jawab negara turut disampaikan melalui tulisan “Masih Indonesi(Asap)” pada pita merah putih. Permainan kata itu menyisipkan istilah asap ke dalam nama Indonesia untuk menggambarkan identitas bangsa yang tertutup polusi akibat eksploitasi lahan.
Bagi Dwi, asap dalam mural tersebut bukan hanya gambaran dampak kebakaran, melainkan simbol ancaman terhadap hak masyarakat untuk menghirup udara bersih.
“Negara hadir bukan lagi dengan udara yang bersih bagi rakyatnya, melainkan asap yang mematikan,” tandasnya.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post