BogorOne.co.id | Kota Bogor – Gagasan Polresta Bogor Kota yakni program Zebra Lodaya 2021 melalui Inovasi Inovasi Zebra Zero pak Ogah (Zeprah) memaksa para pemburu rejeki dari para pengemudi di pertigaan jalan untuk pensiun dini.
Kasat Lantas Polresta Bogor Kota, AKP Galih Apria mengatakan, kebijakan itu sesuai amanat Kapolda Jabar dan Polresta Bogor Kota. Artinya, mulai hari ini mereka (pak ogah, red) istirahat, tidak ada kegiatan.
Tatapi kata dia, pihaknya menghentikan mereka tidak secara sporadis, melainkan secara kekeluargaan. “Jadi kita berikan bantuan dan sumbangan serta kita catat nomor HP mereka untuk dijadikan sahabat kita,” bebernya.
Dia mengaku, saat menyosialisasikan inovasi Zeprah, mereka sudah memahami bahwa ‘pak ogah’ bukan profesi. Sementara dalam pelaksanaan Zeprah ini, pihaknya tidak memaksa para ‘pak ogah’.
“Insya Allah mulai hari ini zero ‘pak ogah’, karena masyarakat sudah paham dan disiplin berlalu lintas,” ujarnya.
Dijelaskannya, bawa program tersebut berlaku se-Kota Bogor. Akan tetapi atas arahan pimpinannya saat ini, pihaknya lebih menekankan pada giat preentif dan giat sosial. Yakni pembagian sembako di titik-titik atau area yang tak tersentuh juga para pengguna jalan, baik tukang ojek, tukang becak, PKL dan sebagainya.
“Itu yang kita prioritaskan mendapatkan sembako. Semua penekanannya, di titik semua,” terangnya.
Saat disinggung mengenai mereka yang mencari nafkah menjadi ‘pak ogah’, tambah dia, ‘pak ogah’ bukan pokok mencari uang dan sebagainya. Sebab yang namanya mencari nafkah itu sama dengan pencari kebutuhan pokok. Untuk itu, pihaknya sepakat menghentikan itu semua.
Masih kata dia, peran serta dari masyarakat, pelaporan di titik titik mana itu sangat penting. Nanti akan diberikan bantuan sosial,” bebernya. Intinya tetap merangkul mereka, sehingga nanti bisa diajak beraktivitas yang lebih baik dan bermanfaat.
“Ya mudah-mudahan kita rangkul satu-satu mereka jadi sahabat kita, banyak pekerjaan-pekerjaan kita bisa seperti mereka ahli di bidang bangunan dan sebagainya, bisa kita arahkan ke hal-hal yang positif,” tutur dia.
Sementara itu, pria yang sehari-hari bekerja mengatur lalu lintas di simpang Jalan Baru Sholeh Iskandar, Ahmad Reza (30), mengaku pasrah.
Saat nanti ke depan sembako sudah habis, keluarganya mau makan apa. Sedangkan di tengah pandemi saat ini, mencari pekerjaan begitu sulit.
”Kita hanya butuh sembako. Keluarga saya butuh makan. Pekerjaan ini sudah saya lakukan sejak 5 tahun silam. Nanti anak-anak saya mau makan apa kalau sudah tidak ada sembako,” keluhnya.
Reza menambahkan, pemerintah seharusnya memberikan lapangan pekerjaan sebelum memberantas ’pak ogah’ di simpang jalan. “Sudah payah makin susah deh,” pungkasnya. (Fry)
























Discussion about this post