BogorOne.co.id | Maros – Nama Bantimurung telah lama tercatat dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia. Kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan itu pernah dijelajahi naturalis Inggris Alfred Russel Wallace pada 1857, jauh sebelum status konservasinya ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.
Dalam karyanya The Malay Archipelago (1869), Wallace menjuluki Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly, merujuk pada kekayaan jenis kupu-kupu yang hidup di kawasan tersebut. Catatan itu menjadikan Bantimurung sebagai salah satu lokasi penting dalam studi keanekaragaman hayati tropis.
Secara administratif, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung membentang di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dengan luas mencapai 43.077,30 hektare. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu bentang alam karst terluas di dunia dan memiliki nilai ekologis yang tinggi bagi Sulawesi Selatan.
Upaya perlindungan kawasan Karst Maros–Pangkep telah dimulai sejak dekade 1970-an. Proses panjang tersebut berujung pada penetapan resmi Bantimurung Bulusaraung sebagai taman nasional pada 18 Oktober 2004 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan.
Keunikan kawasan ini terletak pada ekosistem karst yang lengkap, mencakup bukit-bukit kapur terjal serta gua-gua bawah tanah dengan ornamen speleotem. Lebih dari 400 gua alam dan gua prasejarah tersebar di kawasan ini, menjadikannya laboratorium alam terbuka bagi penelitian geologi, biologi, dan arkeologi.
Bantimurung Bulusaraung juga merupakan habitat penting bagi satwa endemik Sulawesi. Sedikitnya 20 jenis kupu-kupu dilindungi hidup di kawasan ini, termasuk Troides helena dan Papilio adamantius. Selain itu, sembilan spesies satwa kunci tercatat mendiami kawasan taman nasional, seperti Julang Sulawesi, Macaca maura, kuskus beruang Sulawesi, elang Sulawesi, dan babi kutil Sulawesi.
Dari sisi ekologis, kawasan ini berperan sebagai daerah tangkapan air bagi sejumlah sungai utama di Sulawesi Selatan, antara lain Sungai Bantimurung, Pute, dan Walanae. Sistem hidrologi karst yang unik menjadikan taman nasional ini sebagai penyangga air bersih dan penopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dengan bentang alam yang beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan dengan puncak tertinggi mencapai 1.565 meter di Pegunungan Bulusaraung, serta iklim bercurah hujan tinggi, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung diarahkan menjadi destinasi ekowisata karst berkelas dunia yang mengedepankan prinsip konservasi dan keberlanjutan.
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post