BogorOne.co.id | Kota Bogor – Museum Pajajaran di Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, bakal dibuka untuk umum bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544. Pemerintah Kota Bogor menyiapkan museum tersebut sebagai ruang edukasi sejarah Kerajaan Sunda dan Pajajaran.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor Firdaus mengatakan aktivasi Museum Pajajaran menjadi salah satu program yang disiapkan pada momentum HJB tahun ini.
“Iya benar, Museum Pajajaran diresmikan untuk diaktivasi. Insya Allah waktunya bertepatan pada HJB nanti,” kata Firdaus, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut Firdaus, museum yang berada di kawasan Batu Tulis itu nantinya dapat diakses masyarakat umum. Saat ini pemerintah masih melakukan penataan sebelum pembukaan resmi dilakukan.
“Artinya kalau sudah diaktivasi bisa untuk umum. Makanya sampai saat ini masih terus melakukan penataan,” ujarnya.
Firdaus menyebut Museum Pajajaran saat ini telah memiliki sekitar 50 koleksi benda pusaka, didominasi kujang, keris, dan golok. Selain itu, museum juga tengah menyiapkan konsep timeline dan storyline sejarah kerajaan di Tatar Sunda.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan penyusunan timeline menjadi bagian penting agar masyarakat memahami perjalanan sejarah Pajajaran secara runtut.
“Namanya sejarah tentang Pajajaran orang harus tahu ceritanya dari mana sih, awalnya dari mana,” kata Dedie.
Ia menjelaskan timeline tersebut disusun tim dari Universitas Padjadjaran dan akan ditampilkan dalam bentuk panel informasi di area museum. Alur sejarah dimulai dari masa prasejarah, Tarumanegara, Kerajaan Galuh, Cirebon, hingga Pakuan Pajajaran dan Sumedang.
Selain timeline, museum juga akan dilengkapi storyline yang menjelaskan hubungan antarkerajaan maupun wilayah yang berkaitan dengan sejarah Pajajaran.
“Bukan hanya timeline, ada storyline juga. Storyline ini menjadi penting,” ujar Dedie.
Museum Pajajaran nantinya juga menampilkan sejumlah artefak sejarah. Salah satu yang menjadi perhatian ialah Prasasti Batu Tulis yang disebut memiliki nilai penting dalam sejarah dan filosofi Sunda.
“Prasasti Batu Tulis enggak ada duanya. Di situ dijelaskan momentum di mana pernah dinobatkan seorang raja atau prabu yang memiliki nilai-nilai filosofi kesundaan,” kata Dedie.
Ia menambahkan koleksi museum masih dapat terus bertambah seiring adanya kontribusi dari masyarakat maupun keluarga yang memiliki benda bersejarah terkait Pajajaran. Seluruh koleksi nantinya akan diteliti lebih dulu oleh kurator dan ahli sejarah.
“Koleksi-koleksi itu akan memperkaya pengetahuan kita tentang kesejarahan Kerajaan Pajajaran,” kata Dedie.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post