BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Sejumlah perangkat elektronik milik SDN 02 Leuwiranji, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, hilang setelah ruang kantor guru dibobol maling pada Kamis, 22 Oktober 2026. Pencurian tersebut diperkirakan menyebabkan kerugian lebih dari Rp 100 juta dan berpotensi mengganggu kegiatan belajar serta administrasi sekolah.
Barang yang dilaporkan hilang antara lain laptop, printer, perangkat audio, salon aktif, mixer, dan proyektor atau infocus. Jumlah laptop yang raib diperkirakan mencapai 9 hingga 12 unit. Pihak sekolah masih mendata seluruh barang untuk memastikan nilai kerugian.
Guru kelas I sekaligus bendahara sekolah, Iyang Suryanah, mengatakan laptop yang hilang selama ini digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran, administrasi, serta pelaksanaan ujian berbasis komputer.
Perangkat tersebut juga dibutuhkan untuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kehilangan belasan laptop membuat sekolah harus memikirkan cara memenuhi kebutuhan perangkat untuk kegiatan tersebut.
Pencurian pertama kali diketahui penjaga sekolah, Badrudin, saat datang sekitar pukul 05.30 WIB. Ia mendapati jendela ruang kantor guru terbuka dalam kondisi mencurigakan.
Ketika memeriksa bagian dalam ruangan, Badrudin menemukan sejumlah lemari terbuka dan kondisi ruang guru berantakan. Setelah memeriksa barang-barang yang tersimpan, pihak sekolah mengetahui sejumlah perangkat elektronik telah hilang.
Temuan itu kemudian dilaporkan kepada ketua RT, ketua RW, dan kepala sekolah untuk ditindaklanjuti.
Berdasarkan dugaan awal, pelaku masuk melalui bagian belakang bangunan yang relatif mudah dipanjat. Pelaku diduga merusak atau mencongkel jendela sebelum mengambil barang-barang yang disimpan di dalam lemari. Namun, cara pelaku masuk dan meninggalkan lokasi masih harus dipastikan melalui penyelidikan.
Bhabinkamtibmas Desa Sukamulya, Aiptu Asep Rohmat Mulyana, menduga pencurian dilakukan lebih dari satu orang. Ia mengarahkan pihak sekolah membuat laporan resmi kepada kepolisian agar kasus tersebut dapat diselidiki.
“Untuk sementara ini, kita arahkan dari pihak sekolah untuk melakukan laporan ke pos polisi, untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan dari kejadian ini,” kata Asep.
Selain kehilangan perangkat penunjang kegiatan sekolah, kasus ini menyoroti keterbatasan sistem keamanan di SDN 02 Leuwiranji. Iyang mengatakan sekolah belum memiliki kamera pengawas atau closed-circuit television (CCTV).
Selama ini, sekolah mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk memenuhi berbagai kebutuhan operasional. Keterbatasan anggaran membuat penyediaan sarana keamanan harus dipertimbangkan bersama kebutuhan lainnya.
Iyang mengaku baru mengetahui secara langsung kejadian pencurian tersebut selama bertugas di sekolah itu. Namun, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari sejumlah pihak, sekolah diduga pernah mengalami kejadian serupa. Informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi.
Asep mengimbau pihak sekolah meningkatkan kewaspadaan dan menyarankan agar barang-barang berharga tidak ditinggalkan di sekolah apabila memungkinkan untuk disimpan di tempat yang lebih aman. Pemasangan CCTV juga dinilai dapat membantu memantau aktivitas di lingkungan sekolah.
Hingga berita ini disusun, pendataan barang yang hilang masih berlangsung. Jumlah kerugian akhir, kronologi lengkap, dan identitas pelaku belum dipastikan.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post