• INFO IKLAN
  • Redaksi
  • VISI dan MISI
  • Kode Etik Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Cyber
  • Kebijakan Privasi
Kamis, Oktober 29, 2026
bogorone.co.id
  • Login
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
bogorone.co.id
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
Bogor One
No Result
View All Result
Home NASIONAL

Berapa Besar Selisih Emisi PLTU dibanding PLTN? Ini Datanya

Redaksi by Redaksi
9 September 2026
in NASIONAL
0
Berapa Besar Selisih Emisi PLTU dibanding PLTN? Ini Datanya

Ilustrasi perbandingan emisi siklus hidup PLTU batu bara dan PLTN. Sumber data: IPCC AR5; visual diolah penulis.

75
SHARES
75
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BogorOne.co.id – Setiap kali lampu menyala, kipas berputar, atau ponsel mengisi daya, ada jejak emisi yang menyertainya. Besar-kecilnya jejak itu sangat bergantung pada sumber listrik yang digunakan. Di tengah perdebatan mengenai masa depan energi Indonesia, satu pertanyaan penting kerap muncul: seberapa jauh perbedaan emisi gas rumah kaca antara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)?
Jika dibandingkan dengan pendekatan emisi siklus hidup, selisihnya memang sangat besar. Namun, angka tersebut perlu dibaca dengan istilah dan konteks yang tepat.

Bukan Hanya Emisi dari Cerobong

Perbandingan antarteknologi pembangkit sebaiknya tidak hanya menghitung emisi saat pembangkit beroperasi. Analisis siklus hidup (Life-Cycle Assessment/LCA) juga memasukkan emisi dari penambangan dan pengolahan bahan bakar, konstruksi pembangkit, operasi dan pemeliharaan, transportasi, hingga pembongkaran fasilitas pada akhir masa pakai.
Karena itu, satuan yang lebih tepat untuk angka perbandingan ini adalah gram CO2-ekuivalen per kilowatt-jam (gCO2e/kWh), bukan hanya gram CO2. CO2e menyetarakan dampak berbagai gas rumah kaca ke dalam ekuivalen karbon dioksida.

Angkanya: Sekitar 820 vs 12 gCO2e/kWh
Dalam IPCC Fifth Assessment Report (AR5), median emisi siklus hidup pembangkit batu bara tipe pulverized coal tercatat sekitar 820 gCO2e/kWh, dengan kisaran 740-910 gCO2e/kWh. Untuk tenaga nuklir, median yang dilaporkan sekitar 12 gCO2e/kWh, dengan kisaran 3,7-110 gCO2e/kWh.

BERITA LAINNYA

Sengketa Graha Cempaka Mas Sejak 2013, Justiani: Indikator Eksistensi NKRI

Sengketa Graha Cempaka Mas Sejak 2013, Justiani: Indikator Eksistensi NKRI

29 Oktober 2026
Mahasiswa Universitas Trisakti

Mahasiswa Trisakti Demo di Istana Hari Ini, Bawa Tiga Tuntutan soal Supremasi Sipil

29 Oktober 2026
Palangka Raya

Kabut Asap Menipis, Sekolah di Palangka Raya Kembali Gelar PTM Terbatas

29 Oktober 2026
Jurnalis Diduga Alami Represif Saat Liput Aksi di Kota Bogor, Manajemen Layangkan Protes Keras

Jurnalis Diduga Alami Represif Saat Liput Aksi di Kota Bogor, Manajemen Layangkan Protes Keras

29 Oktober 2026

Teknologi/indikator
Nilai
Keterangan

PLTU batu bara
820 gCO2e/kWh
Median IPCC; kisaran 740-910

PLTN
12 gCO2e/kWh
Median IPCC; kisaran 3,7-110

Perbandingan median
±68 kali
820 ÷ 12 ≈ 68,3

Dengan membandingkan nilai median yang sama-sama berasal dari IPCC, emisi siklus hidup listrik dari batu bara sekitar 68 kali lebih tinggi daripada nuklir per kWh. Angka ini adalah perbandingan median global; hasil pada pembangkit tertentu dapat berbeda tergantung teknologi, mutu bahan bakar, rantai pasok, lokasi, faktor kapasitas, dan metode analisis.

Kajian UNECE juga menunjukkan jejak siklus hidup nuklir yang rendah, sekitar 5,1-6,4 gCO2e/kWh pada skenario yang dianalisis. Nilai yang berbeda antarstudi tidak berarti salah satu otomatis keliru; perbedaan biasanya berasal dari asumsi, teknologi, wilayah, dan batas sistem analisis.

Seberapa Besar Dampaknya pada Skala Pembangkit?

Sebagai ilustrasi, pembangkit berkapasitas 600 MW dengan faktor kapasitas 90 persen akan menghasilkan sekitar 4,73 TWh listrik per tahun. Jika angka median IPCC diterapkan secara sederhana pada jumlah listrik tersebut, jejak siklus hidupnya kira-kira menjadi:
PLTU batu bara: sekitar 3,9 juta ton CO2e per tahun.
PLTN: sekitar 57 ribu ton CO2e per tahun.

Perhitungan ini bukan data emisi aktual dari satu pembangkit tertentu, melainkan ilustrasi untuk menunjukkan skala perbedaannya. Faktor kapasitas dan karakteristik teknis tiap pembangkit dapat mengubah hasil.

Mengapa Selisihnya Bisa Sangat Besar?
Pada PLTU batu bara, karbon dalam bahan bakar bereaksi dengan oksigen saat pembakaran dan menghasilkan CO2. Karena pembakaran merupakan inti proses pembangkitan, emisi langsung dari operasi PLTU tetap tinggi meskipun efisiensi teknologi terus ditingkatkan.

PLTN bekerja dengan prinsip berbeda. Panas untuk menghasilkan uap berasal dari reaksi fisi, bukan pembakaran batu bara, minyak, atau gas. Karena itu, emisi langsung gas rumah kaca dari proses pembangkitan listrik nuklir sangat rendah. Emisi siklus hidup PLTN terutama berasal dari konstruksi fasilitas, penambangan dan pengolahan uranium, pengayaan dan fabrikasi bahan bakar, transportasi, operasi pendukung, serta dekomisioning.

Apa yang Terlihat dari Prancis dan Uni Emirat Arab?

Prancis memberi contoh sistem kelistrikan yang menggabungkan porsi nuklir besar dengan energi terbarukan. Pada 2024, sekitar 67 persen listrik Prancis berasal dari nuklir. RTE melaporkan bahwa 95 persen produksi listrik negara itu berasal dari sumber rendah karbon (nuklir dan energi terbarukan). Intensitas karbon langsung pembangkitan listrik Prancis pada 2024 tercatat 21,7 gCO2e/kWh, sedangkan jika dihitung dengan pendekatan siklus hidup sekitar 30,2 gCO2e/kWh.

Uni Emirat Arab memberikan contoh proyek nuklir baru di kawasan dengan sistem listrik yang sebelumnya sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Empat unit PLTN Barakah berkapasitas total 5.600 MW kini memasok hingga sekitar seperempat kebutuhan listrik UEA. Menurut Emirates Nuclear Energy Corporation (ENEC), operasi penuh Barakah diperkirakan mencegah sekitar 22,4 juta ton emisi karbon per tahun dibandingkan pembangkitan yang digantikannya.

Relevansi bagi Indonesia: Emisi Rendah Bukan Satu-satunya Pertimbangan

Indonesia masih mengandalkan PLTU batu bara dalam porsi besar, sementara target Net Zero Emission 2060 menuntut penurunan emisi sektor energi secara bertahap. Dari sudut pandang jejak karbon, data di atas menunjukkan bahwa nuklir layak dipertimbangkan sebagai salah satu opsi rendah karbon untuk menyediakan listrik yang stabil, berdampingan dengan pengembangan energi terbarukan, penguatan jaringan, penyimpanan energi, efisiensi energi, dan pengurangan bertahap pembangkit fosil.

Namun keputusan membangun PLTN tidak boleh hanya didasarkan pada angka emisi. Pemerintah dan masyarakat juga perlu menilai biaya investasi dan pembiayaan, waktu pembangunan, kesiapan jaringan, keselamatan nuklir, pengelolaan limbah radioaktif dan bahan bakar bekas, kesiapan regulator dan sumber daya manusia, rantai pasok, serta penerimaan publik.

Small Modular Reactor (SMR) sering dibahas karena sejumlah desainnya menawarkan ukuran unit yang lebih kecil, kemungkinan konstruksi modular, dan sistem keselamatan pasif. Meski demikian, kelayakannya di Indonesia tetap harus dibuktikan melalui kajian teknologi, ekonomi, keselamatan, tapak, regulasi, dan kebutuhan sistem kelistrikan secara transparan.

Jadi, Berapa Besar Selisihnya?

Jika menggunakan median IPCC untuk emisi siklus hidup, jawabannya sekitar 68 kali: batu bara sekitar 820 gCO2e/kWh dan nuklir sekitar 12 gCO2e/kWh. Angka ini menunjukkan keunggulan kuat tenaga nuklir dari sisi emisi gas rumah kaca per unit listrik. Namun, kebijakan energi yang baik tetap harus melihat gambaran yang lebih lengkap: emisi, biaya, keandalan, keselamatan, waktu pembangunan, pengelolaan limbah, kesiapan institusi, serta bagaimana nuklir dan energi terbarukan dapat saling melengkapi dalam sistem kelistrikan Indonesia.

Sumber Data
IPCC. 2014. Climate Change 2014: Mitigation of Climate Change, Working Group III, Annex III, Table A.III.2 (life-cycle greenhouse gas emissions).
UNECE. 2022. Life Cycle Assessment of Electricity Generation Options.
RTE. Annual Electricity Review 2024 / Bilan électrique 2024 (France).
World Nuclear Association. Nuclear Power in France (data generation mix 2024).
Emirates Nuclear Energy Corporation (ENEC). Barakah Nuclear Energy Plant facts and sustainability information.

Penulis: Rr. Arum Puni Rijanti
Mahasiswi Program Doktoral Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University.

Tags: Pembangkit Listrik Tenaga NuklirPembangkit Listrik Tenaga UapPLTNPLTU

Related Posts

Sengketa Graha Cempaka Mas Sejak 2013, Justiani: Indikator Eksistensi NKRI
NASIONAL

Sengketa Graha Cempaka Mas Sejak 2013, Justiani: Indikator Eksistensi NKRI

29 Oktober 2026
Mahasiswa Universitas Trisakti
NASIONAL

Mahasiswa Trisakti Demo di Istana Hari Ini, Bawa Tiga Tuntutan soal Supremasi Sipil

29 Oktober 2026
Palangka Raya
NASIONAL

Kabut Asap Menipis, Sekolah di Palangka Raya Kembali Gelar PTM Terbatas

29 Oktober 2026
Jurnalis Diduga Alami Represif Saat Liput Aksi di Kota Bogor, Manajemen Layangkan Protes Keras
BOGOR RAYA

Jurnalis Diduga Alami Represif Saat Liput Aksi di Kota Bogor, Manajemen Layangkan Protes Keras

29 Oktober 2026
LPSK Hitung Restirusi 5.102 Korban PT DSI RP1,07 Triliun, Bareskrim Sita dan Blokir 110 Aset di Berkas FH
NASIONAL

LPSK Hitung Restirusi 5.102 Korban PT DSI RP1,07 Triliun, Bareskrim Sita dan Blokir 110 Aset di Berkas FH

28 Oktober 2026
Gempa bumi
NASIONAL

Gempa M 5,4 Guncang Selatan Yogyakarta, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

28 Oktober 2026
Next Post
Abu vulkanik

Dirut Tirta Pakuan Minta Warga Bogor Tak Panik Soal Abu Vulkanik: Air Melalui Proses Pengolahan Ketat

Discussion about this post

BERITA POPULER

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

9 April 2021
Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

8 April 2023
STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

30 Mei 2022
KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

16 September 2024
BAZNAS Kota Bogor dan Pemkot Bogor Berbagi Kebahagiaan Ramadan untuk 400 Pekerja Layanan Publik

BAZNAS Kota Bogor dan Pemkot Bogor Berbagi Kebahagiaan Ramadan untuk 400 Pekerja Layanan Publik

16 Maret 2026

DARI REDAKSI

Bacok Pencuri Hingga Tewas, Seorang Pemilik Kebun Talas di Bogor Jadi Tersangka

Bacok Pencuri Hingga Tewas, Seorang Pemilik Kebun Talas di Bogor Jadi Tersangka

14 Oktober 2024
Timnas Indonesia

Timnas Indonesia Kembali Hadapi Thailand di Final, Luka GBK Kembali Terbuka

3 Oktober 2026
Ungkap Makna Pita Biru Kecil di Acara Oscar 2023

Ungkap Makna Pita Biru Kecil di Acara Oscar 2023

16 Maret 2023
Gerak Cepat Menpora Dito Diapresiasi, Libatkan Pemuda dalam Pembangunan NKRI

Gerak Cepat Menpora Dito Diapresiasi, Libatkan Pemuda dalam Pembangunan NKRI

14 April 2023

Tentang Kami

bogorone.co.id

Selamat Datang di Bogorone.co.id,
Portal Berita yang dikelola oleh PT BOGOR ONE NET MEDIA - SK Kemenkumham RI
No. AHU-0072.AH.01.02.TAHUN 2016

Telah diverifikasi oleh

Dewan Pers

Sertifikat Nomor 1422/DP-Verifikasi/K/X/2025

Info Iklan – Redaksi – Visi dan Misi – Kode Etik Wartawan – Kode Perilaku Perusahaan – Pedoman Media Cyber – Kebijakan Privasi

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In