BogorOne.co.id – Setiap kali lampu menyala, kipas berputar, atau ponsel mengisi daya, ada jejak emisi yang menyertainya. Besar-kecilnya jejak itu sangat bergantung pada sumber listrik yang digunakan. Di tengah perdebatan mengenai masa depan energi Indonesia, satu pertanyaan penting kerap muncul: seberapa jauh perbedaan emisi gas rumah kaca antara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)?
Jika dibandingkan dengan pendekatan emisi siklus hidup, selisihnya memang sangat besar. Namun, angka tersebut perlu dibaca dengan istilah dan konteks yang tepat.
Bukan Hanya Emisi dari Cerobong
Perbandingan antarteknologi pembangkit sebaiknya tidak hanya menghitung emisi saat pembangkit beroperasi. Analisis siklus hidup (Life-Cycle Assessment/LCA) juga memasukkan emisi dari penambangan dan pengolahan bahan bakar, konstruksi pembangkit, operasi dan pemeliharaan, transportasi, hingga pembongkaran fasilitas pada akhir masa pakai.
Karena itu, satuan yang lebih tepat untuk angka perbandingan ini adalah gram CO2-ekuivalen per kilowatt-jam (gCO2e/kWh), bukan hanya gram CO2. CO2e menyetarakan dampak berbagai gas rumah kaca ke dalam ekuivalen karbon dioksida.
Angkanya: Sekitar 820 vs 12 gCO2e/kWh
Dalam IPCC Fifth Assessment Report (AR5), median emisi siklus hidup pembangkit batu bara tipe pulverized coal tercatat sekitar 820 gCO2e/kWh, dengan kisaran 740-910 gCO2e/kWh. Untuk tenaga nuklir, median yang dilaporkan sekitar 12 gCO2e/kWh, dengan kisaran 3,7-110 gCO2e/kWh.
Teknologi/indikator
Nilai
Keterangan
PLTU batu bara
820 gCO2e/kWh
Median IPCC; kisaran 740-910
PLTN
12 gCO2e/kWh
Median IPCC; kisaran 3,7-110
Perbandingan median
±68 kali
820 ÷ 12 ≈ 68,3
Dengan membandingkan nilai median yang sama-sama berasal dari IPCC, emisi siklus hidup listrik dari batu bara sekitar 68 kali lebih tinggi daripada nuklir per kWh. Angka ini adalah perbandingan median global; hasil pada pembangkit tertentu dapat berbeda tergantung teknologi, mutu bahan bakar, rantai pasok, lokasi, faktor kapasitas, dan metode analisis.
Kajian UNECE juga menunjukkan jejak siklus hidup nuklir yang rendah, sekitar 5,1-6,4 gCO2e/kWh pada skenario yang dianalisis. Nilai yang berbeda antarstudi tidak berarti salah satu otomatis keliru; perbedaan biasanya berasal dari asumsi, teknologi, wilayah, dan batas sistem analisis.
Seberapa Besar Dampaknya pada Skala Pembangkit?
Sebagai ilustrasi, pembangkit berkapasitas 600 MW dengan faktor kapasitas 90 persen akan menghasilkan sekitar 4,73 TWh listrik per tahun. Jika angka median IPCC diterapkan secara sederhana pada jumlah listrik tersebut, jejak siklus hidupnya kira-kira menjadi:
PLTU batu bara: sekitar 3,9 juta ton CO2e per tahun.
PLTN: sekitar 57 ribu ton CO2e per tahun.
Perhitungan ini bukan data emisi aktual dari satu pembangkit tertentu, melainkan ilustrasi untuk menunjukkan skala perbedaannya. Faktor kapasitas dan karakteristik teknis tiap pembangkit dapat mengubah hasil.
Mengapa Selisihnya Bisa Sangat Besar?
Pada PLTU batu bara, karbon dalam bahan bakar bereaksi dengan oksigen saat pembakaran dan menghasilkan CO2. Karena pembakaran merupakan inti proses pembangkitan, emisi langsung dari operasi PLTU tetap tinggi meskipun efisiensi teknologi terus ditingkatkan.
PLTN bekerja dengan prinsip berbeda. Panas untuk menghasilkan uap berasal dari reaksi fisi, bukan pembakaran batu bara, minyak, atau gas. Karena itu, emisi langsung gas rumah kaca dari proses pembangkitan listrik nuklir sangat rendah. Emisi siklus hidup PLTN terutama berasal dari konstruksi fasilitas, penambangan dan pengolahan uranium, pengayaan dan fabrikasi bahan bakar, transportasi, operasi pendukung, serta dekomisioning.
Apa yang Terlihat dari Prancis dan Uni Emirat Arab?
Prancis memberi contoh sistem kelistrikan yang menggabungkan porsi nuklir besar dengan energi terbarukan. Pada 2024, sekitar 67 persen listrik Prancis berasal dari nuklir. RTE melaporkan bahwa 95 persen produksi listrik negara itu berasal dari sumber rendah karbon (nuklir dan energi terbarukan). Intensitas karbon langsung pembangkitan listrik Prancis pada 2024 tercatat 21,7 gCO2e/kWh, sedangkan jika dihitung dengan pendekatan siklus hidup sekitar 30,2 gCO2e/kWh.
Uni Emirat Arab memberikan contoh proyek nuklir baru di kawasan dengan sistem listrik yang sebelumnya sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Empat unit PLTN Barakah berkapasitas total 5.600 MW kini memasok hingga sekitar seperempat kebutuhan listrik UEA. Menurut Emirates Nuclear Energy Corporation (ENEC), operasi penuh Barakah diperkirakan mencegah sekitar 22,4 juta ton emisi karbon per tahun dibandingkan pembangkitan yang digantikannya.
Relevansi bagi Indonesia: Emisi Rendah Bukan Satu-satunya Pertimbangan
Indonesia masih mengandalkan PLTU batu bara dalam porsi besar, sementara target Net Zero Emission 2060 menuntut penurunan emisi sektor energi secara bertahap. Dari sudut pandang jejak karbon, data di atas menunjukkan bahwa nuklir layak dipertimbangkan sebagai salah satu opsi rendah karbon untuk menyediakan listrik yang stabil, berdampingan dengan pengembangan energi terbarukan, penguatan jaringan, penyimpanan energi, efisiensi energi, dan pengurangan bertahap pembangkit fosil.
Namun keputusan membangun PLTN tidak boleh hanya didasarkan pada angka emisi. Pemerintah dan masyarakat juga perlu menilai biaya investasi dan pembiayaan, waktu pembangunan, kesiapan jaringan, keselamatan nuklir, pengelolaan limbah radioaktif dan bahan bakar bekas, kesiapan regulator dan sumber daya manusia, rantai pasok, serta penerimaan publik.
Small Modular Reactor (SMR) sering dibahas karena sejumlah desainnya menawarkan ukuran unit yang lebih kecil, kemungkinan konstruksi modular, dan sistem keselamatan pasif. Meski demikian, kelayakannya di Indonesia tetap harus dibuktikan melalui kajian teknologi, ekonomi, keselamatan, tapak, regulasi, dan kebutuhan sistem kelistrikan secara transparan.
Jadi, Berapa Besar Selisihnya?
Jika menggunakan median IPCC untuk emisi siklus hidup, jawabannya sekitar 68 kali: batu bara sekitar 820 gCO2e/kWh dan nuklir sekitar 12 gCO2e/kWh. Angka ini menunjukkan keunggulan kuat tenaga nuklir dari sisi emisi gas rumah kaca per unit listrik. Namun, kebijakan energi yang baik tetap harus melihat gambaran yang lebih lengkap: emisi, biaya, keandalan, keselamatan, waktu pembangunan, pengelolaan limbah, kesiapan institusi, serta bagaimana nuklir dan energi terbarukan dapat saling melengkapi dalam sistem kelistrikan Indonesia.
Sumber Data
IPCC. 2014. Climate Change 2014: Mitigation of Climate Change, Working Group III, Annex III, Table A.III.2 (life-cycle greenhouse gas emissions).
UNECE. 2022. Life Cycle Assessment of Electricity Generation Options.
RTE. Annual Electricity Review 2024 / Bilan électrique 2024 (France).
World Nuclear Association. Nuclear Power in France (data generation mix 2024).
Emirates Nuclear Energy Corporation (ENEC). Barakah Nuclear Energy Plant facts and sustainability information.
Penulis: Rr. Arum Puni Rijanti
Mahasiswi Program Doktoral Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University.
























Discussion about this post