BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Kabupaten Bogor mencatat kenaikan kasus Cikungunya sepanjang Januari hingga Juli 2024. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mencatat total 76 kasus selama periode ini, dengan sebaran di sejumlah kecamatan dan desa yang rawan gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Berdasarkan data Dinkes, Januari tercatat dua kasus di Kecamatan Ciomas. Februari naik menjadi delapan kasus di Desa Tamansari dan Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojonggede. Maret turun sedikit menjadi tiga kasus di Bojonggede, namun pada April melonjak menjadi 18 kasus yang tersebar di Rawa Panjang, Desa Jagar Batik (Parungpanjang), dan Desa Bojong Nangka (Gunung Putri). Dari jumlah tersebut, dua kasus dikonfirmasi positif melalui rapid test.
Pada Mei, kasus mencapai 19 kasus di Rawa Panjang, Karadenan, Parungpanjang, Bojong Nangka, dan Gunung Putri, dengan 25 kasus terdeteksi positif antibodi Cikungunya melalui rapid test. Juni mencatat satu kasus di Bojong Baru, sementara Juli terdapat lima kasus di Desa Mekarsari dan Desa Cogleg, Kecamatan Kedung Waringin, dengan tiga kasus terkonfirmasi.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Bogor, Adang Mulyana, menjelaskan Cikungunya disebabkan virus yang dibawa oleh vektor sama dengan Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Cikungunya ditandai pegal-pegal, nyeri sendi, susah bergerak. Biasanya dalam dua minggu pasien bisa sembuh sendiri, meski beberapa gejala ringan bisa bertahan beberapa minggu,” ujarnya dikuti dari timetoday.id, Minggu (17/8/2025).
Adang menambahkan, rapid test hanya mendeteksi antibodi saat fase pemulihan, berbeda dengan DBD yang dapat diidentifikasi sejak awal infeksi. “
Penanggulangannya hampir sama seperti DBD, dengan pesan 3M. Jika penyebaran cepat, langkah terakhir adalah fogging secepat mungkin. Nyamuk Aedes aegypti menggigit setiap waktu, sehingga risiko penularan lebih tinggi, terutama pada lansia dengan komorbid,” katanya.
Adaang mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan di lingkungan rumah, rutin menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, serta membuang benda yang bisa menampung air untuk meminimalkan perkembangbiakan nyamuk.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post