BogorOne.co.id | Kota Bogor – Pro dan kontra penerapan ganjil genap tahap ke dua di Kota Bogor terus berlanjut, karena dinilai kontradiktif dengan pemulihan ekonomi ditebgah landaan pandemi covid-19.
Sektor yang paling dirugikan adalah para pengusaha hotel dan restoran, karena dampak kebijakan tersebut membuat akupansi pengunjung anjlok hingga 70 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kota Bogor Yuno Abeta Lahay mengatakan, kebijakan ganjil genap membuat nasib bisnis di sektor wisata khususnya hotel dan restoran makin terpuruk.
Dari data yang dia miliki, penerapan ganjil genap tahap pertama yang dilakukan dua pekan, akupansi hotel dan restoran merosot hingga 50 persen. Dilanjutkan dengan ganjil genap tahap kedua makin drop.
“Pemberlakuan ganjil genap hingga tahap ke dua makin parah, angka kunjungan turun hingga 70 persen,” kata Yuno melalui pesan WhatsAppnya.
Dia berpendapat, kebijakan ganjil genap lebih baik dihapuskan. Alasannya, karena tidak dilakukan secara merata.
Seperti diketahui, bahwa di Kota Bogor jumlah hotel ada sekitar 100, sementara resto, rumah makan dan cafe ada sekitar 1.000 lebih. Usaha itu bernaung dibawah organisasi PHRI.
Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya mengklaim, bahwa kebijakan ganjil genap berhasil menurunkan kasus Covid-19 secara signifikan.
Diakui dia, data menunjukan pada tanggal 6 Februari kasus di Bogor mencapai puncak 180 perhari 15 Februari kemarin turun menjadi 105, belum pernah terjadi sebelumnya penurunan kasus secara signifikan di masa pandemi Kota Bogor.
“Jadi ganjil genap ini cukup efektif, pertama mobilitas berkurang kedua laju positif juga berhasil ditekan,” ungkapnya.
Mengenai dampak terhadap ekonomi Bima menegaskan ganjil genap bukanlah lockdown sehingga masyarakat masih bisa menjalankan mobilitas asal sesuai dengan kebijakan ganjil genap. (Fik | Gie)




























Discussion about this post