Oleh: Subhan Murtadla, S.Ag., M.E. Ketua Pimpinan Cabang Syarikat Islam Kota Bogor
BogorOne.co.id – Kongres Nasional Syarikat Islam ke-42 di Surabaya, 17–20 November 2026, harus menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali arah perjuangan organisasi dalam menjawab tantangan zaman.
Lebih dari sekadar forum permusyawaratan, kongres merupakan ruang refleksi sejarah, konsolidasi organisasi, dan perumusan strategi untuk membangun masa depan Syarikat Islam yang lebih kuat, mandiri, dan berdampak bagi umat serta bangsa.
Sejarah Syarikat Islam menunjukkan bahwa kebangkitan ekonomi merupakan salah satu fondasi penting perjuangannya. Berawal dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan Haji Samanhudi di Surakarta pada 1905, gerakan ini berkembang menjadi kekuatan sosial yang memperjuangkan martabat, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat.
Warisan sejarah tersebut harus diterjemahkan menjadi agenda nyata. Syarikat Islam tidak cukup hanya dikenal melalui kebesaran sejarahnya, tetapi juga harus hadir sebagai organisasi yang mampu memberikan solusi atas persoalan ekonomi, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan umat.
Salah satu agenda strategis yang perlu diperkuat adalah dakwah ekonomi melalui kebangkitan saudagar Syarikat Islam. Saudagar tidak hanya diposisikan sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan perjuangan yang membangun kemandirian ekonomi umat.
Saudagar yang berlandaskan tauhid harus menjunjung kejujuran, profesionalisme, keadilan, dan kepedulian sosial. Keberhasilan usaha tidak semata-mata diukur dari keuntungan, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, memberdayakan UMKM, membangun kemitraan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Syarikat Islam perlu mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang menghubungkan saudagar, koperasi, UMKM, lembaga pendidikan, dan jaringan usaha antardaerah. Dengan demikian, semangat persaudaraan tidak berhenti sebagai ikatan emosional, melainkan berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang produktif.
Selain ekonomi, konsolidasi organisasi dan regenerasi kepemimpinan harus menjadi perhatian utama. Struktur organisasi dari pusat hingga cabang perlu diperkuat melalui program yang terukur, kaderisasi berkelanjutan, serta pembagian peran yang jelas. Generasi muda harus diberikan ruang untuk memimpin, berinovasi, dan mengembangkan kewirausahaan tanpa kehilangan jati diri perjuangan.
Kongres Nasional ke-42 juga perlu menghasilkan agenda strategis yang dapat diterjemahkan menjadi program kerja konkret. Keberhasilan kongres tidak cukup dinilai dari lancarnya persidangan atau banyaknya keputusan, tetapi dari kesungguhan organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut.
Bagi Syarikat Islam, masa depan harus dibangun dengan memadukan kekuatan ideologi, kualitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, dan kebermanfaatan sosial. Semangat Semurni-murni Tauhid, Setinggi-tinggi Ilmu, Sepintar-pintar Siasat harus terus menjadi pedoman dalam menghadapi perubahan zaman.
Pada akhirnya, Surabaya bukan sekadar tempat berlangsungnya kongres. Surabaya harus menjadi titik tolak bagi kebangkitan baru Syarikat Islam—kebangkitan yang menjadikan sejarah sebagai inspirasi, organisasi sebagai alat perjuangan, dan ekonomi sebagai jalan pemberdayaan umat.
Dari Surabaya, meneguhkan arah baru. Dari konsolidasi menuju aksi. Dari kebangkitan saudagar menuju kemandirian ekonomi umat.
Syarikat Islam harus terus bergerak, beradaptasi, dan berkarya demi terwujudnya masyarakat yang adil, sejahtera, dan bermartabat.
Billahi fii sabililhaq.
Editor : Muttaqien






















Discussion about this post