BogorOne.co.id I Kota Bogor – Harga telur ayam di pasar tradisional di Kota Bogor meningkat sepekan terakhir, harganya tembus diangka Rp 31 ribu per kilogram. Untuk itu Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor memantau ketersediaan stok di pasaran.
Direktur Operasional (Dirops) Perumda PPJ, Deni Ari Wibowo, mengatakan saat ini harga telur memang berada di angka tertinggi di Kota Bogor. Menurutnya, kenaikan dan tingginya harga telur ayam ini terjadi lantaran produksi telur ayam setelah Covid-19 kondisinya belum pulih kembali.
Sehingga lanjut dia, berdampak terhadap produksinya yang masih belum mencukupi dengan permintaan yang besar. “Informasi yang didapat stok berkurang karena adanya permintaan yang meningkat. Ada informasi juga permintaan telur untuk bantuan sosial (bansos). Sehingga stok telur kekurangan,” ucapnya.
Menyikapi tingginya harga telur di pasaran Deni mengaku pihaknya belum bisa mengatasi hal itu. Sebab, diperlukan dana yang besar terkait stok telur yang harus disediakan.
Untuk itu, Perumda PPJ Kota Bogor hanya bisa memonitor kondisi pasar, terkait ketersediaan stok di lapangan. “Kita hanya memonitor kondisi di pasar saja untuk stok telur, masih aman apa tidak di lapangan,” ujar Deni.
Selain telur ayam, beberapa komoditas kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan. Diantaranya, mie instan semula Rp 2.900 per bungkus, kini menjadi Rp 3.200 per bungkus. Lalu, harga cabai rawit merah dan hijau semula dijual Rp 45 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 50 ribu per kilogram.
Berdasarkan data Perumda PPJ Kota Bogor, harga telur tertinggi berada di Pasar Bogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Harga telur di Pasar Bogor berada di angka Rp 31 ribu per kilogram.
Dan telur yang dijual di Pasar Bogor berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Salah seorang pedagang di Pasar Bogor bernama Agung, mengakui harga telur meningkat belum lama yakni sejak sepekan lalu. Sebelumnya, ia menjual telur di harga Rp 27 ribu per kilogram, namun saat ini meningkat menjadi Rp 31 ribu.
Masih kata did, sebenarnya untuk pengiriman barang atau stok ketersediaan telur ayam negeri terbilang cukup aman. Akan karena adanya program bantuan sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah, menjadi penyebab harga telur ayam mengalami kenaikan.
Sejauh ini, kata dia, tidak ada kesulitan pengiriman barang untuk berdagang. Ia memperkirakan yang menjadi permasalahan naiknya harga telur yakni adanya program bansos melalui PKH.
“Karena mereka (pemerintah) belinya langsung ke peternak, masalahnya gitu, dampaknya peternak bisa naikin harga, kan karena kebutuhan deras, jadi kaya gitu,” ucapnya.
Sementara, salah seorang warga Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor Ria mengaku keberatan dengan kenaikan harga telur ayam tersebut.
Sebab, telur ayam merupakan salah satu bahan pokok yang sering dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk untuk usaha berjualan kue. “Ya namanya kita usaha bikin kue, keberatan banget. Karena kan setiap hari kita beli telur,” kata dia. (Fry)























Discussion about this post