Oleh : Firdaus Roy Sekretaris Jenderal Gerakan Tani Syarikat Islam (Gertasi)
BogorOne.co.id – Fenomena : Indenesia dalam konteks kekinian sangatlah memprihatinkan, dua kubu saling berlomba lomba menunjukkan peran aktif satu sama lain dihadapan rakyat.
Kubu pemerintah mengadalkan faktor pembangunaan infrastruktur yang begitu pesat serta banyak mengelontorkan anggaran negara juga meraih investor.
Faktor pembangunan tentunya jadi produk andalan, diharapkan dapat bermanfaatkan bagi rakyat secara maksimal.
Kubu penyeimbang non pemerintah, terus menelanjangi kebijakan yang tidak tepat sasaran, akan membuat negeri ini sakit dengan utang yang bertumpuk-tumpuk kelak harus di bayar gerasi penerus bangsa indonesia.
Tentunya, dua kubu serta pemikiran dan kerja tersebut dijadikan tolak ukur untuk berpikir dan bekerja bagi rakyat, terus melangkah kedepan lebih mantap menantang arus menjinakan badai.
Sektor penting yang terus digarap oleh kami kumpulan rakyat dalam satu organisasi Gerakan Tani Syarikat Islam, (gertasi) sesuai dengan potensi yang ada tidak lepas dari : pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan laut dan darat, pertambangan rakyat, bidang teknologi dan perlindungan hukum
yang semua bermuara kesatu titik yakni ekonomi.
Dari delapan bidang tersebut Gertasi merasa peran pemerintah tidaklah dalam kondisi yang konsisten, masih banyaknya kebijakan yang tumpang tindih, ditambah peran dewan perwakilan rakyat dalam pengawasan tidaklah maksimal. Hingga ciri khas rakyat yang selalu memprotes kinerja kinerja pesuruh dan pelayan rakyat itu sendiri.
Hal ini tentu tidak lepas dari pedoman bagi rakyat bahwa memang kedaulatan yang sesungguh ada pada rakyat itu sendiri. faktor – faktor tersebut tentu dapat rasakan langsung oleh rakyat negeri kaya raya ini, tapi betapa sulit dan mencekiknya delapan yang aktifitas yang disampaikan diatas.
Oknum perampok negera ini yang selalu lolos dari jeratan hukum serta licinnya para cukong mencari keuntungan belaka yang membuat rakyat garam berkepanjangan.
Gertasi tidak akan pernah bosan, sadar akan miskin ilmu dan pergerekan, di bidang pertanian terseok seok melangkah sulit untuk mendapat bibit untuk ditanam, di ladang-ladang yang mulai tandus oleh kekeringan karena alam yang sudah tidak lagi bersahabat.
Adapun hasil pertanian untuk menjualnya terasa meringis karena tak menguntungkan menjadi santapan hari – hari.
Belum lagi sektor perkebunan yang mayoritas dikuasai perusahaan raksasa para konglomerat dan investor yang berkeliaran di negeri ini.
Bidang perternakan juga hampir senasib dengan yang bidang pertanian begitupun dengan bidang perkebunan untuk bertahan pun terasa sulit.
Bidang pertambangan yang menjadi primadona saat ini, hanya bisa di pandang iri oleh rakyat. Sebab akyat hanya mampu meraih serpihan serpihan yang ditinggalkan raksasa mitra pemerintah, dalam sisa yang di tinggalkan.
Sungguh naif dan memilukan bagi rakyat indonesia, yang hidup di negera kay raya ini. Sungguh lah miris rasanya tak nampak kesan rakyat dalam kondisi bahagia, bahkan senyumpun terasa mahal terlontarkan.
Konflik disetiap sudut negeri yang terjadi, tentu menjadi tontonan bagi kita semua, khasus rempang adalah sebagain kecil yang terjadi dibangsa ini.
Pemicu masalah dimulai dari tata kelola dan musyawarah yang tidak berpihak pada rakyat, rakyat merasa terusik walaupun kita tidak menafikan bahwa kemampuan permodalan negeri ini belum di kelola dengan baik, shingga untuk membangun teknologipun negeri ini masih butuh investor, hal ini tentu kita ketahui sebab dan akibatnya.
Belum lagi kasus dimana
terkadang – kadang rakyat melangkah melewati batas kewajaran, hal ini terjadi karena rasa terpaksa. Rakyat harus menjadi pencuri di negeri sendiri hanya untuk mempertahankan hidup hari ini karena besok yang masih misteri yang tidak bisa di janjikan oleh negara.
Hanya bidang hukum yang mampu sedikit memberikan harapan hidup bagi rakyat pelaku pertanian, perkebunan, perikanan dan perternakan minimal bisa mempertahan hak dalam mengelola lahan warisan.
Bidang ekomomi yang menjadi muara dari semua hanya bisa berjalan di tempat, kerena tertinggal jauh secara teknologi dan kemampuan sumber daya manusia yang ada. Karena dapat dikatakan kurang sentuhan dan perhatian negara.
Mengapa negara yang harus disalahkan?
Jawaban untuk kita pahami bersama, ada pelaksana amanat Undang Undang yang harus dijalankan pemerintah dalam satu negera.
Kalaulah ini mampu di maksimalkan dengan moral yang baik adalah cara yang bijak menjadi jalan menghantarkan ke gerbang kesejahteraan bagi rakyat indonesia,
Rakyat butuh pelindung negara harus mampu menjadi payung hidup bagi rakyat sendiri. Dari berbagai produk politik haruslah menguntungkan rakyat secara merata.
Jadi peran aktif pemerintah bersama dewan perwakilan rakyat dapat terasa langsung efek positif oleh rakyat, tapi haruslah juga menyudahi keuntungan prinsip KKN yang mejadi momok menakutkan bagi rakyat.
Mengapa kita perlu pemimpin yang bersih di alam indonesia sekarang ini?
Kalaulah urat malu pelaksana yang nama pemerintah dan mitranya bersama dewan perwakilan rakyat masih ada, tentu kita ketahui bersama, pemerintah yang amanah sangat ditunggu oleh rakyat.
Kita berhadap negara yang mempunyai fasilitas terlengkap untuk menjalankan regulasi yang dibuat menguntungkan rakyat, hingga rakyat menjadi penerima manfaat yang nyata bukan mimpi mimpi indah belaka.
Disinilah kita terus mengingatkan pemerintah dan dewan rakyat, tidak akan bosan – bosannya rakyat bersuara, seperti kita pahami bagaimana orang tua yang memberikan nasehat pada anaknya untuk selalu berbuat kebaikan,
Rakyat di negeri ini tidak akan patah arang untuk berubah ke arah yang lebih baik, serta untuk sampai ke gerbang kesejahteraan.
Walaupun diperhatikan ataupun tidak oleh pemerintah dan wakil rakyatnya. Tetaplah terus bergerak karena disinilah seni bernegara sedang di uji, hingga kata kata bijak pendiri bangsa ini bahwa yang tidak murni akan terbakar mati akan terbukti.
Harapan para oposisi teruslah bergerak memberikan masukan keras dengan cara dipaksa kalaupun itu diperlukan, dengan niat meraih perubahan yang lebih baik bagi rakyat.
Harapan dan asa tidaklah boleh hilang sehingga kita semua anak anak bangsa ini sadar bahwa ada cara bijak yang telah di ajarkan para leluhur, beranilah bermusyawarah sebagai jembatan meraih tujuan.
Pemerintah dan wakil rakyat serta pihak oposisi harus mampu membuka jubah kebesaraan untuk malu melihat masih ada rakyat mengais gais rezeki di sudut kota, diantara tumpukan sampah sampah dan dipojokan desa rakyat menahan lapar karena kaleng berasnya kosong tak terisi lagi
Kita perlu solusi!
Tidaklah pancasila sebagai kesepakatan bersama hanya simbol hiasan dinding perkentoran saja, semua harus mampu dilaksanakan oleh kita semua. Jangan hanya brisik di tahun, bulan, hari politik saja, seolah olah kita yang paling terbaik untuk negeri yang sedang sakit ini.
Regulasi adalah tugas pemerintah yang telah di sepakati untuk rakyat. Gerbang pintu kesejahteraan haruslah terus bergulir sampai apa yang di harapkan tercapai.
Patut diingat ada di sudut pelosok negeri kaya raya ini masih banyak kemiskinan terjadi.
Salam Anak Negeri
Gerakan Tani Syarikat Islam terus bergerak untuk mencapai tujuan dari pada pancasila sebagai kesepakan pendiri bangsa ini.
Kita bertuhan,
kita manusia yang beradab,
Kita harus mampu bersatu,
Kita butuh perwakilan yang amanah hingga keadilan segara terwujud.
























Discussion about this post