BogorOne.co.id | Caringin – Dampak musim kemarau yang melanda Kabupaten Bogor semakin meluas. Ratusan kepala keluarga di dua RW, Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, mengalami krisis air bersih akibat hujan yang tidak turun selama hampir tiga bulan terakhir.
Kondisi tersebut diperparah dengan rusaknya Bendungan dan saluran Irigasi Palayangan yang tertimbun longsor sekitar tiga tahun lalu. Hingga kini, infrastruktur tersebut belum juga diperbaiki sehingga aliran air yang sebelumnya mengairi permukiman warga dan lahan pertanian terputus total.
Pantauan di lokasi menunjukkan saluran irigasi yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat kini tampak kering dan dipenuhi rerumputan liar. Air yang biasanya mengalir ke perkampungan sudah tidak terlihat lagi. Akibatnya, resapan air ke dalam tanah ikut terhenti sehingga debit air sumur milik warga terus menurun hingga banyak yang mengering.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, puluhan warga terpaksa memperdalam sumur mereka. Sumur yang sebelumnya hanya berkedalaman sekitar 9 hingga 10 meter kini harus digali kembali hingga mencapai sekitar 14 meter agar air kembali keluar.
Salah seorang warga, Lily, mengaku keluarganya kini merasakan dampak langsung dari kekeringan yang terjadi. Sumur yang selama ini menjadi sumber air utama tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dulu sumur kami kedalamannya sekitar 10 meter sudah banyak air. Sekarang harus digali lagi sampai 14 meter baru keluar air. Itu pun airnya tidak sebanyak dulu. Kami berharap pemerintah segera membantu karena kalau kemarau terus berlanjut kami khawatir sumur benar-benar kering,” ujar Lily, Senin 20 Juli 2026.
Krisis air yang berkepanjangan juga berdampak terhadap sektor pertanian. Sekitar 20 hektare lahan yang sebelumnya merupakan areal persawahan kini berubah menjadi perkebunan tanaman palawija karena tidak lagi mendapat pasokan air dari Irigasi Palayangan. Namun kondisi tersebut belum mampu menyelamatkan hasil pertanian. Tanaman mentimun milik warga mulai mengering dan diperkirakan mengalami gagal panen akibat kekurangan air.
Ketua RW 03 Desa Ciherang Pondok, Ujang Suganda, mengatakan kekeringan yang terjadi saat ini bukan hanya disebabkan musim kemarau, tetapi juga akibat saluran Irigasi Palayangan yang rusak karena longsor dan belum diperbaiki selama sekitar tiga tahun.
Menurutnya, sejak irigasi tidak lagi mengalir, resapan air ke sumur-sumur warga ikut terhenti sehingga hampir seluruh sumur mengalami penyusutan debit air.
“Kalau hanya kemarau mungkin masih bisa ditahan. Tapi karena Irigasi Palayangan sudah sekitar tiga tahun tidak mengalir akibat longsor, resapan air ke sumur warga ikut hilang. Akibatnya banyak sumur mengering dan warga harus menggali sumurnya hingga 14 meter supaya keluar air,” kata Ujang Suganda.
Ia menjelaskan, kerusakan irigasi juga membuat puluhan hektare sawah kehilangan sumber pengairan sehingga petani tidak lagi dapat menanam padi seperti sebelumnya.
“Sekitar 20 hektare sawah berubah menjadi kebun palawija. Itu pun sekarang banyak yang mengering karena kekurangan air. Petani dipastikan mengalami kerugian dan terancam gagal panen,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ujang mengungkapkan hingga saat ini warga belum menerima bantuan air bersih melalui mobil tangki dari pihak mana pun, termasuk dari BPBD Kabupaten Bogor.
“Sampai sekarang belum ada bantuan air bersih yang masuk ke wilayah kami. Kami berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan air bersih sekaligus memperbaiki bendungan dan saluran Irigasi Palayangan agar air kembali mengalir ke permukiman dan lahan pertanian. Kalau irigasi kembali normal, resapan air tanah juga akan pulih sehingga sumur warga tidak lagi mengering,” tegasnya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Bogor segera mengambil langkah cepat dengan memperbaiki bendung dan jaringan Irigasi Palayangan yang rusak serta menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak. Mereka menilai perbaikan irigasi merupakan solusi jangka panjang agar krisis air bersih dan kekeringan lahan pertanian tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : Muttaqien


























Discussion about this post