BogorOne.co.id | Jakarta – Menurut filosofi Waldorf, seni dan alam menjadi salah satu faktor sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang balita
Walau tidak sepopuler filosofi Montessori pendidikan Waldorf ternyata juga sudah banyak diadopsi untuk mendidik balita sejak tahun 1919.
Pendidikan Waldorf yang tercetus dari pemikiran filsuf, arsitek, sekaligus seniman asal Jerman bernama Rudolf Steiner menekankan pentingnya pengalaman yang diberikan pada anak dalam tujuh tahun pertama kehidupan, bagi perkembangannya di masa depan.
Menurut International Association for Steiner/Waldorf Early Childhood Education, keunggulan pendidikan Waldorf adalah fokusnya pada perkembangan holistik balita dengan mengintegrasikan konten seni, praktek dan berbagai bidang ilmu.
Tidak ketinggalan, keterampilan sosial dan nilai spiritual juga menjadi bagian penting dalam pendidikan Waldorf untuk balita.
Yuk, lihat dulu beberapa prinsip dasar yang diterapkan dalam filosofi pendidikan Waldorf untuk balita.
Sejak awal, Rudolf Steiner mengatakan kalau setiap anak berkembang dengan kecepatan dan cara yang berbeda.
Itulah kenapa pendidikan Waldorf untuk balita lebih fokus mengikuti minat, perkembangan, dan kebutuhan individual anak ketimbang kurikulum dan isi buku.
Dikutip dari Waldrofeducation, aktivitas kesenian seperti bermain musik, bercerita, menggambardan mewarnai, menjadi bagian penting dalam pendidikan Waldorf untuk balita.
Semua pengalaman dalam kegiatan tadi penting untuk lebih mengembangkan kreativitas dan imajinasi yang dibutuhkan agar balita tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara fisik, emosional, spiritual dan intelektual.
Agar balita tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bisa diandalkan, pendidikan Waldorf juga menekankan pentingnya menguasai aktivitas domestik seperti memasak, membuat kue, berkebun, serta melakukan pekerjaan tangan seperti origami, memahat dan semacamnya.
Berbagai aktivitas tadi bukan hanya membekali balita dengan kecakapan hidup untuk mengurus diri secara mandiri, tapi juga menumbuhkan rasa disiplin dan tanggung jawab, mengasah kemampuan motorik halus, serta meningkatkan kreativitas.
Dalam buku Simplicity Parenting yang ditulis oleh praktisi pendidikan Waldorf Kim Brooking-Payne dan Lisa M. Ross, dikatakan bahwa memiliki rutinitas harian membuat parenting lebih mudah bagi orang tua dan menumbuhkan rasa aman dalam diri balita.
Itulah kenapa, setiap balita disarankan untuk memulai harinya dengan berbagai kegiatan seperti menyanyi, membaca buku, olahraga ringan, atau melakukan keterampilan tangan dengan tema tertentu.
Filosofi pendidikan Waldorf juga mendorong balita untuk banyak beraktivitas di luar ruangan atau alam bebas, agar bisa memperhatikan lebih dekat dunia di sekelilingnya.
Beraktivitas di alam bebas juga dapat menjauhkan anak dari stres serta meningkatkan fokus dan kreativitasnya. Mereka juga bisa bebas menjelajahi lingkungan fisik dan juga bersosialisasi.
Menurut Rudolf Steiner, sebenarnya tidak butuh banyak mainan balita dan gadget untuk mendukung tumbuh kembang balita.
Mainan terbaik untuk anak justru objek yang bersifat sederhana, memberikan stimulasi sensori, dan berasal dari alam, seperti biji cemara, ranting, papan kayu, kertas kardus, batu dan semacamnya.
Dengan menjadikan objek sederhana sebagai mainan, balita didorong untuk mengerahkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan visual spasialnya untuk membuat waktu bermain jadi lebih seru.(Ir-v)
























Discussion about this post