BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) melalui Provincial Programme Implementation Unit (PPIU) Jawa Barat terus menunjukkan hasil nyata dalam mendukung regenerasi petani dan wirausahawan muda di sektor pertanian.
Dengan cakupan lima kabupaten binaan—Bogor, Cianjur, Sukabumi, Subang, dan Tasikmalaya—program ini telah menjangkau 83.587 calon penerima manfaat (CPM) yang siap menjadi entrepreneur di sektor pertanian hingga pertengahan 2025.
Hingga saat ini, 67.728 pemuda telah menerima manfaat program telah diintervensi langsung oleh program YESS dan siap menjadi wirausaha muda di bidang pertanian, dengan 929 penerima hibah individu.
Lalu 23 klaster wirausaha, dan omzet kolektif klaster mencapai lebih dari Rp32 miliar per tahun. Dari ladang kopi di Cianjur hingga peternakan domba di Sukabumi, kisah sukses para alumni YESS menjadi inspirasi regenerasi petani di seluruh Indonesia.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut petani muda sebagai tonggak penting dalam membangun pertanian modern Indonesia. Petani muda adalah warisan berharga untuk masa depan pangan nasional.
“Dari Jawa Barat, kita melihat anak-anak muda bangkit menjadi petani milenial yang melek teknologi, mampu menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ketahanan pangan nasional. Mereka membuktikan bahwa bertani itu keren, menguntungkan, dan masa depan,” ujar Mentan Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa keberhasilan program YESS harus menjadi model bagi provinsi lain.
“YESS bukan hanya program, tetapi gerakan perubahan. Kita melihat bagaimana pendidikan vokasi, pendampingan bisnis, dan ekosistem agribisnis terbangun dengan kuat. Generasi muda kita tidak lagi melihat pertanian sebagai pilihan terakhir, tetapi sebagai peluang emas,” ungkap Arsanti.
Aminudin, Project Manager YESS PPIU Jawa Barat, juga mengungkapkan kebanggaannya atas capaian luar biasa program ini. Menurutnya, keberhasilan tersebut tak lepas dari kerja sama solid seluruh tim di Polbangtan Bogor.
“Keberhasilan PPIU Jawa Barat adalah hasil sinergi penuh dari semua pegawai Polbangtan Bogor. Dari perencanaan hingga pendampingan lapangan, kami bekerja dengan semangat kolaborasi untuk memastikan setiap penerima manfaat dapat berkembang. Kami percaya bahwa sinergi adalah kunci untuk menghadirkan perubahan nyata di sektor pertanian,” tutur Aminudin.
Ketika YESS pertama kali hadir, sektor pertanian Indonesia sedang menghadapi tantangan serius: mayoritas petani berusia di atas 50 tahun, sementara generasi muda lebih memilih bekerja di sektor lain atau merantau ke kota.
Di lima kabupaten binaan—Bogor, Cianjur, Sukabumi, Subang, dan Tasikmalaya—tantangan ini terasa nyata.
“Awalnya banyak yang ragu. Tapi kami yakin dengan pendekatan pendidikan vokasi, pendampingan intensif, hingga inkubasi bisnis, pertanian bisa kembali menarik bagi generasi muda,” kata Aminudin, Project Manager YESS PPIU Jawa Barat, dengan mata berbinar mengenang awal perjalanan program.
Kini, keraguan itu telah berubah menjadi keyakinan. Hingga pertengahan 2025, YESS PPIU Jabar telah menjangkau lebih dari 67.000 pemuda, mencetak 929 penerima hibah individu, 23 klaster wirausaha, dan omzet kolektif klaster mencapai Rp32 miliar per tahun.
Program YESS juga berhasil menghubungkan para petani milenial dengan pasar yang lebih luas. Melalui inkubator bisnis, mereka didorong untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan bersertifikasi. Beberapa alumni kini telah menembus pasar ekspor dengan komoditas seperti kopi, rempah, dan hortikultura organik.
Selain itu, akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan dana bergulir membantu mereka mengembangkan usaha hingga skala komersial. Total akses pendanaan yang telah dimanfaatkan penerima manfaat YESS di Jabar mencapai lebih dari 132 miliar hingga 2025.
Dengan masa program yang akan berakhir pada Desember 2025, PPIU Jabar optimistis legacy YESS akan terus berlanjut melalui penguatan klaster, koperasi petani muda, dan integrasi program ke dalam kebijakan daerah.
“Dari desa-desa di Jawa Barat, kita sedang menyiapkan generasi emas pertanian yang tidak hanya bisa bertahan, tapi juga memimpin di era teknologi,” tegas Amin. (Adv)
























Discussion about this post