31 C
Bogor
Sabtu, 6 Maret 2021

Kisruh Interchange, Penggugat Ogah Lanjutkan Mediasi

Must read

Sekolah Nekad Gelar KBM Tatap Muka, Bakal Diberi Sanksi

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Sesuai kesepakatan Pemerintah Kota Bogor dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Jawa Barat, bagi sekolah yang nekad melaksanakan Kegiatan...

Virus Corona B117 Masuk Jabar, Warga Diminta Waspada

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Pandemi covid-19 juga belum teratasi, kini Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengimbau agar warga waspada terhadap varian virus Coron B117...

Kadin Kota Bogor Cari Ketua Baru

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Seiring habisnya masa jabatan ketua, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bogor akan gelar Musyawarah Kota (Mukota) ke VII,...

Dodi Warning Kadernya Yang Catut Namanya di KLB PD

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Kota Bogor R Dodi Setiawan menunjukan loyalitas dan kesetiannya terhadap Ketum Agus Harimurti Yudhoyono...

BogorOne.com I Kota Bogor – Mediasi antara Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, PT Gunung Swarna Abadi (GSA), Bogor Raya dan warga perihal hilangnya akses jalan menuju lahan pertanian akibat adanya proyek bukaan tol atau interchange Tol Jagorawi Km 42,5 yang di gelar di Pengadilan Negeri (PN) Bogor hingga saat ini belum didapat kesepakatan.

Kuasa hukum pemilik lahan Dwi Arsywendo mengatakan, dalam persoalan tersebut Pemkot Bogor tak kunjung menjalankan saran teknis dari Kementerian PUPR. Diantaranya membuat Detail Engineering Design (DED) serta pengajuan izin pemanfaatan lahan milik PUPR untuk dijadikan akses jalan warga.

“Padahal, dalam perjanjian kerjasama (PKS) antara Pemkot Bogor dan PT GSA dengan nomor 003/gsa-pks/IV/2017 tentang pelaksanaan peningkatan jalan dan pembangunan infrastruktur pengendali terhadap pengaruh pembangunan bukaan jalan Tol Jagorawi Km 4 2,5 itu, pemkot memiliki beberapa kewajiban yang dituangkan dalam pasal 5,” ujar Dwi, Jumat (15/01/21)

Diakui Dwi, dalam pasal 5 ada enam poin yang mesti dipenuhi pemkot. Pertama, Pemkot Bogor memberikan masukan dan persetujuan kajian lalu lintas dan lingkungan. Kedua, memberikan perizinan. Ketiga, memberi persetujuan DED. Keempat, memfasilitasi proses pengadaan tanah.

“Kelima pemkot melakukan pengawasan terhadap pembangunan dan yang keenam memberikan saran spesifikasi teknis. Dari pasal itu kan jelas, bahwa pemkot punya kewenangan, dan mestinya menjalankan rekomendasi teknis dari PUPR,” tegasnya.

Dia juga menegaskan, PKS tersebut ditandatangani pada 26 April 2017 oleh Sekretaris Daerah Ade Sarip Hidayat selaku perwakilan pemkot dan Direktur PT GSA, Aris Agung selaku pengembang interchange. “Sejauh ini Pemkot Bogor seperti lepas tangan, dan tak mau menjalankan rekomendasi teknis Kementerian PUPR,” tambahnya.

Selain itu kata Dwi, Pemkot juga tetap menginginkan kliennya untuk menyurati PUPR terkait izin pemanfaatan lahan. “Memang PUPR sudah memberikan izin lisan, dan itu dituangkan dalam akta van dadding (perdamaian). Tapi kami nggal mau, izin mesti diberikan tertulis agar memberi kepastian hukum,” tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama, salah seorang pemilik lahan, Yahya Maulana mengatakan, apabila dalam mediasi tak netral dan tidak ada keberpihakan kepada masyarakat, tentunya sampai kapanpun takkan ada titik temu. “Kalau selalu deadlock, tentu kami memilih melanjutkan persidangan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Hukum dan HAM Setda Kota Bogor, Alma Wiranta enggan berbicara banyak saat dimintai tanggapan perihal kisruh tersebut. “Oke saya realease ya,” singkatnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengatakan, pemerintah sudah melaksanakan permintaan penggugat. Namun, tentunya pihak terkait membutuhkan waktu untuk finalisasi.

“Sudah. Dinas teknis diminta untuk koordinasi dengan Jasa Marga dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) agar menyiapkan gambar akses jalan warga,” ucapnya.

Dedie menyatakan bahwa sebenarnya pemerintah ingin menggelar koordinasi pada pekan ini dengan Kementerian PUPR dan Jasa Marga. Namun, lantaran adanya penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), pemkot akan melakukannya via zoom meeting untuk membahas teknisnya.

Lebih lanjut, Dedie juga menegaskan bahwa dalam pemberian akses jalan warga bukan kewenangan Pemkot Bogor. “Makanya kita koordinasikan ke yg berwenang yaitu Jasa Marga dan BPJT. Kalau bicara kewenangan pemberian izin dan lain-lain itu kan dari pusat,” kata Dedie.

Dedie, mengaku Pemkot hanya berwenang memfasilitasi kepentingan para pihak agar ada solusi. “Saat ini kita bicaranya masalah teknis bagaimana akses bisa dibuat. Sekarang sedang berproses. Baiknya kita koordinasikan,” tandasnya (MT)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Sekolah Nekad Gelar KBM Tatap Muka, Bakal Diberi Sanksi

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Sesuai kesepakatan Pemerintah Kota Bogor dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Jawa Barat, bagi sekolah yang nekad melaksanakan Kegiatan...

Virus Corona B117 Masuk Jabar, Warga Diminta Waspada

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Pandemi covid-19 juga belum teratasi, kini Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengimbau agar warga waspada terhadap varian virus Coron B117...

Kadin Kota Bogor Cari Ketua Baru

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Seiring habisnya masa jabatan ketua, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bogor akan gelar Musyawarah Kota (Mukota) ke VII,...

Dodi Warning Kadernya Yang Catut Namanya di KLB PD

BogorOne.co.id | Kota Bogor - Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Kota Bogor R Dodi Setiawan menunjukan loyalitas dan kesetiannya terhadap Ketum Agus Harimurti Yudhoyono...

DPRD KOTA BOGOR AKAN TERBITKAN PERDA SANTUAN KEMATIAN BAGI MASYARAKAT

BogorOne.co.id | Kota Bogor - DPRD Kota Bogor akan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Santunan Kematian Bagi Masyarakat. Saat ini Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda)...