BogorOne.co.id | Kota Bogor – Pemerintah (Pemkot) Bogor kembali mengizinkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dengan kapasitas maksimal 50 persen pada berbagai jenjang pendidikan sejak Senin (21/03/22).
Hal itu ditandai dengan diterbitkannya surat edaran oleh Ketua Satgas Covid-19 Kota Bogor. bina Arya bernomor 08/STPC/03/2022 tentang Kebijakan Pembelajaran Pada Masa PPKM Dalam Rangka Pengendalian Covid-19 di Kota Bogor.
Menurut Bima, PTM sudah bisa diselenggarakan mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA sederajat, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya di Kota Bogor.
“Semua kegiatan yang melibatkan pelajar atau siswa dapat dilakukan secara terbatas tidak melebihi kapasitas 50 persen. Serta dengan protokol kesehatan ketat,” ujar Bima, Minggu (20/03/22).
Diketahui, dalam aturan PPKM Level 2, pelaksanaan pembelajaran di satuan pendidikan dapat dilakukan melalui PTM Terbatas. Sedangkan Satuan Pendidikan yang melaksanakan kegiatan perkantoran pada sektor non esensial diberlakukan 75 persen Work From Office (WFO) bagi pegawai yang sudah divaksin.
“Jadi keputusan ini berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2022 tentang PPKM Jawa-Bali, maksimal jumlah peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar 50 persen,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Hanafi menuturkan bahwa PTM Terbatas berkapasitas 50 persen bakal dilaksanakan secara periodik dan akan terus dievaluasi.
“Kalau memungkinkan tahun ajaran depan PTM bisa 100 persen, itu oun bila kasus landai. Sekarang beradaptasi dulu,” ungkapnya.
Terpisah, Anggota DPRD Fraksi PPP, Akhmad Saeful Bakhri mendukung penuh langkah Pemkot Bogor kembali menjalankan PTM Terbatas. Sebab, kata dia, selama ini Disdik tak bisa memaparkan hasil evaluasi pola pembelajaran dan pencapaian tatanan pelaksanaan pendidikan siswa selama pendemi melalui PJJ.
“Evaluasi PJJ seharusnya bisa dipublish ke masyarakat, terutama capaian pembelajaran sebelum ada pedoman dan pasca model online learning yang dilaksanakan di seluruh tingkatan pendidikan,” ungkap pria yang akrab disapa Gus M ini.
Kata dia, orangtua siswa perlu mengetahui, apa saja yang sudah dilakukan dan seperti apa hasilnya.
Dijelaskannya bahwa sepertiga jumlah penduduk kota adalah anak- anak. Atas dasar itu, evaluasi pencapaian pembelajaran di seluruh tingkatan pendidikan selama masa pendemi dan pasca harus jelas tolak ukurnya.
“Bagaimana mekanisme penilaian akhir tahun ajaran dan seperti apa
Penilaian akhir semester, hal itu perlu disosialisasi,” tandas Gus M. (Fry)
























Discussion about this post