BogorOne.co.id | Kota Bogor – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor menyelenggarakan Seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis ke-8 dengan mengusung tema “Smart Farming sebagai Strategi Swasembada Pangan Berkelanjutan”, Rabu 24 Juni 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, serta pemerhati pertanian dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar nasional ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, hasil penelitian, dan inovasi teknologi pertanian yang mendukung percepatan pembangunan pertanian modern menuju swasembada pangan berkelanjutan.
Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa transformasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
“Pertanian Indonesia harus bergerak menuju pertanian modern yang berbasis teknologi, efisien, dan mampu meningkatkan produktivitas. Generasi muda pertanian harus menjadi pelaku utama dalam transformasi ini agar target swasembada pangan dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penguatan sumber daya manusia pertanian menjadi faktor penting dalam implementasi smart farming di lapangan.
“Penerapan smart farming tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga SDM pertanian yang kompeten, adaptif, dan inovatif. Perguruan tinggi vokasi pertanian memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan pertanian modern,” ungkap Idha Widi Arsanti.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan, penelitian, dan dunia usaha dalam mendukung pembangunan pertanian nasional.
“Perguruan tinggi vokasi harus mampu menjadi pusat inovasi dan pengembangan teknologi pertanian terapan. Melalui kegiatan seminar nasional ini, hasil-hasil penelitian dapat didiseminasikan dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan sektor pertanian,” ujarnya.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, mengatakan bahwa Dies Natalis ke-8 menjadi momentum bagi institusi untuk terus memperkuat peran pendidikan vokasi pertanian dalam menghasilkan inovasi dan sumber daya manusia yang unggul.
“Tema smart farming yang kami angkat merupakan bentuk komitmen Polbangtan Bogor dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Melalui kolaborasi akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi, kami berharap lahir berbagai inovasi yang mampu menjawab tantangan pertanian masa depan,” kata Yoyon.
Pada sesi utama, peserta memperoleh wawasan mengenai penerapan teknologi pertanian modern dari sejumlah narasumber nasional, yaitu Prof. Dr. Sofyan Sjaf, S.Pt., M.Si., drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet., serta Dr. Ir. Andri Prima Nugroho, S.TP., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng.
Para narasumber membahas berbagai aspek penerapan smart farming, mulai dari penguatan kelembagaan petani, kesehatan hewan, pemanfaatan teknologi digital, hingga inovasi pertanian presisi yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Selain seminar nasional, kegiatan ini juga menjadi wadah diseminasi hasil penelitian melalui presentasi oral yang terbagi ke dalam lima bidang kajian, yakni Agroekoteknologi, Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Teknik Pertanian dan Biosistem, serta Penyuluhan Pertanian dan Komunikasi Pembangunan.
Puluhan makalah dipresentasikan dalam beberapa ruang paralel yang membahas berbagai inovasi dan hasil riset terkini di bidang pertanian. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat jejaring akademik dan kolaborasi riset guna mendukung pengembangan pertanian modern, meningkatkan daya saing sumber daya manusia pertanian, serta mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.
Selain menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, seminar nasional ini juga menghasilkan berbagai rekomendasi dan temuan penting dari lima bidang kajian yang dipresentasikan dalam ruang paralel.
Pada bidang Agroekoteknologi, para pemakalah menyoroti pentingnya penerapan teknologi digital dan pendekatan berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya pertanian.
Berbagai penelitian membahas konservasi lahan, pengendalian hama berbasis digital, pemanfaatan Azolla sebagai sumber energi hijau, efektivitas program pompanisasi, pengelolaan kualitas air irigasi, hingga implementasi smart farming untuk mendukung swasembada pangan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi, Internet of Things (IoT), serta pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Pada bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, penelitian yang dipresentasikan menekankan pentingnya integrasi usaha ternak dan pertanian. Pemanfaatan daun kelor sebagai aditif pakan terbukti berpotensi meningkatkan performa ternak.
Sementara pemanfaatan limbah peternakan menjadi pupuk bokashi mendukung sistem pertanian terpadu. Selain itu, kajian mengenai deteksi penyakit hewan menggunakan metode molekuler serta pengelolaan hijauan pakan menunjukkan pentingnya penerapan teknologi dan penguatan manajemen kesehatan hewan untuk mendukung produktivitas peternakan yang berkelanjutan.
Pada bidang Teknik Pertanian dan Biosistem, berbagai inovasi teknologi pertanian modern menjadi perhatian utama. Penelitian mengenai penggunaan drone multispektral, sistem Internet of Things, blockchain, sistem Enterprise Resource Planning (ERP), hingga mekanisasi pertanian menunjukkan besarnya potensi digitalisasi dan otomasi dalam meningkatkan efisiensi produksi.
Selain itu, pengembangan sistem monitoring tanaman, pengelolaan pascapanen, pengeringan gabah, serta mekanisasi pengolahan lahan menjadi bukti bahwa teknologi presisi semakin penting dalam mendukung pertanian modern.
Sementara itu, bidang Penyuluhan Pertanian dan Komunikasi Pembangunan menghasilkan berbagai temuan mengenai pemberdayaan petani dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian.
Kajian yang dipresentasikan mencakup efektivitas bantuan alat dan mesin pertanian, penguatan kelompok wanita tani, pemanfaatan limbah ternak, pengembangan produk olahan pangan, peningkatan kompetensi digital penyuluh, serta partisipasi generasi muda dalam usaha pertanian.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi pertanian sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan, penyuluhan, dan pemberdayaan masyarakat.
Secara umum, seluruh bidang kajian menegaskan bahwa penguatan inovasi, digitalisasi, mekanisasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam mewujudkan pertanian yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Hasil-hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan, pendidikan, dan implementasi teknologi pertanian di lapangan. (Adv)


























Discussion about this post