BogorOne.co.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Tekanan datang dari kombinasi sentimen global, terutama kenaikan harga minyak, serta faktor domestik berupa pelebaran defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.19 WIB, rupiah terdepresiasi 44 poin atau 0,26 persen ke level Rp 17.079 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,14 persen ke posisi 100,12.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin, 6 April 2026, rupiah ditutup turun 55 poin ke level Rp 17.035 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia menyebut pelaku pasar tengah mencermati tenggat waktu yang diberikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak mentah turut memperbesar kekhawatiran inflasi global. Biaya energi yang lebih tinggi berpotensi menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi jika jalur distribusi energi tersebut tetap terganggu.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda menjadi salah satu pemicu kenaikan harga energi sekaligus memperburuk sentimen pasar keuangan.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu kondisi fiskal. Defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp 240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka itu meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB, sehingga menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post