BogorOne.co.id | Kota Bogor – Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor menghadapi ancaman kekurangan pasokan air bersih di wilayah selatan. Defisit produksi diperkirakan semakin besar setelah masa sewa instalasi pengolahan air (IPA) milik swasta berakhir pada September 2026, sementara proyek penambahan kapasitas belum juga terealisasi karena keterbatasan anggaran.
Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira, mengatakan sekitar 90 persen sumber air baku Kota Bogor masih bergantung pada kawasan selatan, terutama Kecamatan Cijeruk dan Tangkil. Pasokan untuk Zona 1 saat ini berasal dari IPA Rancamaya berkapasitas 30 liter per detik (lps) dan Mata Air Tangkil sebesar 110 lps, sehingga total kapasitas distribusi mencapai 140 lps.
Menurut Rino, kapasitas tersebut secara teknis hanya ideal untuk melayani sekitar 14 ribu sambungan pelanggan. Namun, jumlah pelanggan di Zona 1 kini telah mencapai 17 ribu hingga 18 ribu sambungan.
“Kita mengalami kekurangan pasokan sekitar 30 liter per detik di Zona 1. Selama tiga tahun terakhir, defisit ini kami tutupi dengan menyewa WTP milik Unitec,” kata Rino, Kamis, 9 Juli 2026.
Ia mengatakan solusi sementara itu tidak dapat dipertahankan lebih lama karena pemilik berencana menjual aset IPA Unitec. Masa sewa instalasi tersebut akan berakhir pada September tahun ini. Jika belum ada infrastruktur pengganti yang beroperasi, kekurangan pasokan diperkirakan akan semakin terasa bagi pelanggan.
Untuk mengatasi persoalan itu, Tirta Pakuan telah merancang proyek penambahan kapasitas produksi hingga 200 lps di wilayah selatan sejak tiga tahun lalu. Namun, rencana tersebut belum berjalan akibat minimnya dukungan pendanaan.
Dari kebutuhan investasi sebesar Rp134 miliar melalui skema Rancangan Peraturan Daerah Penyertaan Modal Pemerintah (PMP), dana yang telah terealisasi baru sekitar Rp15 miliar. Karena itu, perusahaan berharap Pemerintah Kota Bogor bersama DPRD menambah alokasi penyertaan modal agar proyek strategis tersebut dapat segera dilaksanakan.
Selain memperkuat pasokan di selatan, Tirta Pakuan juga mulai mengalihkan fokus pengembangan jaringan ke Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Barat pada semester kedua tahun ini. Kedua kawasan dinilai memiliki potensi pertumbuhan pelanggan yang besar seiring berkembangnya kawasan permukiman, pusat niaga, Terminal Bubulak, dan akses menuju Kampus IPB Dramaga.
Rino menambahkan, Perumda Tirta Pakuan sebenarnya telah mengantongi izin pemanfaatan air hingga 240 lps. Namun, keterbatasan infrastruktur membuat kapasitas yang saat ini baru dapat dimanfaatkan hanya sekitar 30 lps.
Melalui kunjungan Komisi III DPRD Kota Bogor ke instalasi pengolahan air, Rino berharap dukungan legislatif dapat memperkuat alokasi penyertaan modal pemerintah pada APBD 2027 untuk membiayai proyek-proyek peningkatan layanan air bersih di Kota Bogor.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post