BogorOne.co.id | Kota Bogor – Selain dengan cara drive thru, vaksinasi masal untuk orang lanjut usia (lansia) yang digelar Pemkot Bogor juga dilakukan dengan cara lain, yakni memanfaatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) unyun sarana pemberian vaksin.
Ada hal unik dalam proses vaksinasi bagi lansia, salah satu dokter di RS Vania memberikan vaksin dengan menggunakan pakaian layaknya pahlawan super Captain America. Dia adalah Dokter Rollando Erric Manibuy.
Saat diwwncara, Dokter Erric menjelaskan alasannya mengenakan pakaian pahlawan super dalam pemberian vaksin kepasa lansia, supaya penerima vaksin tidak merasa takut ketika hendak divaksin.
“Kalau berobat pas pandemi awal-awal kan dokternya pakai APD lengkap. Kalau menurut saya, kalau di posisi pasien itu nakutin ya. Makanya terus pakai pernak-pernik superhero supaya orang yang lihat lebih ke arah lucu,” katanya.
Selain kostum Captain America yang dikenakannya hari ini, Dokter Erric menyebutkan beberapa kostum lain yang dimilikinya. Di antaranya, Darth Vader, Spiderman, Ksatria Baja Hitam, Ksatria Baja Hitam RX, Kamen Rider Ichigo, Deadpool, Iron Man, Robocop, dan Optimus Prime.
Dari seluruh tenaga kesehatan di RS Vania, hanya dia yang menggunakan kostum superhero dan semacamnya.
Pria yang merupakan dokter spesialis bedah tulang ini mengatakan, baru hari ini diminta perbantuan untuk pelaksanaan vaksinasi lansia hari ini. Meski dirinya memang melakukan praktik di RS Vania.
“Saya baru sekali ini saja. Sebenarnya praktik di sini, cuma diminta untuk membantu vaksinasi hari ini gitu,” jelasnya.
Hal menarik lainnya adalah, pasien yang disuntik oleh Dokter Erric adalah pria tertua di Indonesia yaitu Wirjawan yang diketahui sudah berusia 104 tahun.
Sementara itu, putri ketiga dari Wirjawan, Indriyati Pardewi mengatakan, ayahnya mengetahui adanya pemberian vaksin Covid-19 terhadap lansia melalui media tulis dan televisi.
Sehingga, ketika ditanya apakah bersedia divaksin, ayahnya mengaku bersedia karena memang harus divaksin. Bahkan saat ditanya, orang tua itu juga mengaku tahu tentang program vaksinasi.
“Saya tanya, mau nggak divaksin? Katanya mau, kan harus. Jadi dia sudah tau, karena dia kan setiap hari masih baca-baca, liat tv juga. Jadi dia ngerti ngikutin,” tutur Indriyati.
Sebagai anggota keluarga, Indriyati mengaku tidak takut ketika ayahnya harus divaksin. Apalagi, setelah menerima vaksin dosis pertama pada 23 Maret lalu, ayahnya tidak mengalami gejala sama sekali.
“Nggak (takut), kenapa harus takut? Karena nggak ada halangan kok. Nggak ada sama sekali (gejala), nggak ada,” ujarnya.
Mengenai kondisi ayahnya yang masih sehat di usianya saat ini, Indriyati mengatakan, ayahnya kerap berputar di sekitar tempat tinggalnya. Yakni di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.
Selain itu, aktivitas yang dilakukan Wirjawan hanya beribadah di gereja.
Tapi sekarang setelah Covid nggak, di rumah aja ya nggak ke mana-mana. “Kecuali dia ke tempat saya. Nggak ada yang datang juga ke rumahnya, nggak boleh,” kata Indriyati.
Di tempat yang sama, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto turut meninjau jalannya vaksinasi terhadap Wirjawan di RS Vania. Bima Arya mengapresiasi kreatifitas dari Dokter Erric yang bertujuan agar penerima vaksin tidak takut.
“Saya dapat informasi hari ini, ada jadwal salah seorang yang paling tua di Bogor usianya sudah 104. Nah yang uniknya juga, Dokter Erric pakai pakaian karakter katanya supaya yang nyuntiknya semangat, yang disuntik juga nggak takut,” kata Bima.
Bima Arya juga turut mengagumi gaya hidup disiplin yang dijalani Wirjawan, meskipun usianya sudah lebih dari satu abad. Sehingga, setelah menerima vaksin Covid-19, Wirjawan tidak mengalami gejala apapun.
Diakui Bima saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor tengah melakukan pendekatan persuasif terhadap lansia agar bersedia disuntik vaksin, dengan berbagai cara.
“Biasanya kita lakukan pendekatan di wilayah sampai rumahnya masing-masing oleh puskesmas secara persuasif supaya mau. Ada kadang-kadang yang mesti dijemput, atau dikasih oleh-oleh diimingi,” pungkasnya. (Gie)
























Discussion about this post