BogorOne.co.id | Jakarta – Sekolah Rakyat akan menggunakan sistem pemetaan calon siswa berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai salah satu instrumen dalam proses pembelajaran. Hal ini disampaikan Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Prof. M. Nuh, dalam pertemuan di kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (1/7/2025).
“Talenta mapping berbasis AI memiliki efisiensi tinggi dalam hal biaya, energi, dan waktu,” ujar M. Nuh dikutip dari beritasatu.com
Menurutnya, pendekatan ini penting untuk menggali keunggulan unik setiap anak, yang selama ini sulit dilakukan secara konvensional.
Ia mencontohkan, selama ini pendekatan pendidikan cenderung menyamaratakan semua siswa, padahal masing-masing anak memiliki karakteristik dan potensi berbeda. Untuk itu, pihaknya menggandeng Ary Ginanjar selaku pengembang sistem pemetaan potensi siswa berbasis AI.
“Setiap siswa Sekolah Rakyat akan dipetakan potensi dan talentanya agar arahan pembelajaran lebih tepat sasaran,” ujar Nuh. Ia menambahkan, pemetaan akan dilakukan hingga level spesifik pada setiap kuadran potensi siswa.
Nuh juga menyebut bahwa sistem ini merupakan inovasi yang pertama diterapkan di Sekolah Rakyat. “Pak Ary memberikan izin agar sistem ini digunakan di Sekolah Rakyat sebagai bentuk komitmen bahwa anak-anak ini memiliki potensi luar biasa,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sosial Saifullah Yusuf memastikan bahwa Sekolah Rakyat akan mulai beroperasi di 100 titik pertama pada 14 Juli 2025.
Ia mengatakan pihaknya tengah menyelesaikan tahap akhir rekrutmen guru, tenaga kependidikan, dan finalisasi kurikulum yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Namun, kurikulum tersebut masih perlu dilengkapi dengan modul dan instrumen lain agar pembelajarannya tepat sasaran,” kata Saifullah Yusuf.
Ia menegaskan bahwa proses rekrutmen siswa tidak menggunakan tes akademik. Calon siswa hanya perlu lolos administrasi dan pemeriksaan kesehatan. Untuk pemetaan siswa, Kemensos akan menggunakan aplikasi Manajemen Talenta, yang mencakup aspek potensi dan gaya belajar, minat karier, interaksi sosial, kegiatan ekstrakurikuler, dukungan emosional, hingga roadmap pembangunan diri.
Pendiri ESQ Corp, Ary Ginanjar, mengapresiasi kebijakan tanpa tes akademik dalam penerimaan siswa Sekolah Rakyat. Ia menyebut kebijakan ini sebagai “kejutan untuk Indonesia dan dunia”.
Menurut Ary, pemetaan potensi berbasis AI akan membantu mengidentifikasi kejeniusan anak sejak dini dan pada bidang yang sesuai. Ia juga menyebut bahwa berdasarkan penelitian dari Nebraska University, pendekatan ini dapat meningkatkan potensi seseorang hingga 744 persen.
“Kita berharap dari Sekolah Rakyat akan lahir generasi emas Indonesia 2045,” pungkasnya.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post