BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Guru Besar Manajemen Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Ricky Avenzora, menyoroti aksi penyegelan dan pencabutan izin usaha wisata di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Ia menilai kebijakan tersebut tidak sesuai prosedur dan berpotensi merugikan banyak pihak.
“Intinya tidak dilakukan dengan prosedur yang pas, hal itu sungguh tidak bijak dan sangat merugikan semua pihak secara signifikan. Menurut saya harus segera dihentikan dan tidak boleh diulang oleh siapapun,” ujar Prof. Ricky, Sabtu, 20 September 2025.
Ricky menyebut kebijakan yang dilakukan pemerintah merupakan bentuk individual over acting serta abuse of power atau penyalahgunaan jabatan. Ia menilai seharusnya pemerintah mendukung dan memfasilitasi para pelaku usaha, bukan justru memberhentikan aktivitas mereka.
Sebagai contoh, Ricky menyinggung kasus penyegelan Eiger Adventure Land (EAL) yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Ia menilai tindakan pemerintah bukan hanya bentuk penyalahgunaan wewenang, melainkan juga misleading political mindset yang dapat menimbulkan narasi negatif.
“Indonesia hanya memiliki sedikit sekali pengusaha wisata kategori menengah-atas yang konsisten mengembangkan ekowisata. Eiger salah satunya. Seharusnya pemerintah memberi dukungan penuh, bukan malah menghentikan atau membongkar,” tegas Ricky.
Menurutnya, pola kebijakan “hentikan dan bongkar” menunjukkan arogansi jabatan yang tidak dibenarkan secara hukum serta merugikan masyarakat luas dari sisi sosial maupun ekonomi.
Sementara itu, Kepala UPT Penataan Bangunan Wilayah II Ciawi, Agung Tarmedi, memastikan Eiger Adventure Land telah mengantongi perizinan lengkap. Dokumen yang dimiliki antara lain Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), siteplan, dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) atas nama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) sebagai pemilik lahan.
Pembangunan EAL sendiri diresmikan dengan peletakan batu pertama pada 17 Oktober 2021 oleh Menparekraf Sandiaga Uno. Chairman PT Eigerindo, Ronny Lukito, menyebut ekowisata ini dibangun dengan konsep “Leisure Business” yang tetap mengedepankan kelestarian alam.
“Dari total lahan yang ada, Eiger hanya menggunakan 1,56 persen. Bangunan yang dibuat pun semi permanen,” kata Ronny.
Selain ramah lingkungan, keberadaan EAL juga dinilai memberikan dampak positif bagi warga sekitar. Iskandar, warga Megamendung, menyebut pembangunan Eiger Adventure Land menyerap banyak tenaga kerja lokal dan mendukung ekonomi UMKM.
“Menurut kami, lokasi pembangunan Eiger ramah lingkungan karena ada penanaman pohon secara berkelanjutan. Dampaknya juga positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain menciptakan lapangan kerja, keberadaan EAL diharapkan bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bogor serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Puncak.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post