BogorOne.co.id — Tepat pada 16 Oktober 1905 di Laweyan, Solo, seorang saudagar batik bernama Haji Samanhudi bersama rekan-rekannya mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI). Siapa yang menyangka, inilah awal mula gerakan kebangkitan nasional yang kelak melahirkan berbagai organisasi perjuangan kemerdekaan di Indonesia.
Kini, genap 120 tahun perjalanan organisasi yang kemudian dikenal sebagai Syarikat Islam (SI) organisasi Islam tertua yang menggerakkan kesadaran sosial, ekonomi, dan politik umat.
Jejak Sejarah yang Panjang dan Bermakna
Syarikat Islam bukan hanya organisasi, tetapi gerakan perubahan umat. Di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdoel Moeis, Syarikat Islam telah meletakkan dasar perjuangan yang berlandaskan Islam menegakkan keadilan, menumbuhkan kesetaraan, dan memperjuangkan kemerdekaan.
“Syarikat Islam adalah rumah kebangkitan nasional pertama, tempat nilai-nilai Islam diterjemahkan menjadi kekuatan sosial dan ekonomi umat.”
Perjalanan 120 tahun ini adalah bukti keteguhan dan daya tahan luar biasa. Dalam setiap masa, SI menghadapi tantangan yang berbeda dari masa penjajahan, hingga era kemerdekaan dan globalisasi hari ini. Namun satu hal yang tak berubah: komitmen terhadap nilai Islam dan kemerdekaan sejati.
Dari Persatuan Menuju Kemerdekaan Sejati
Syarikat Islam memiliki enam asas perjuangan utama:
1. Persatuan,
2. Kehidupan berdasarkan nilai-nilai Islam,
3. Keadilan ekonomi,
4. Persamaan hak,
5. Kemerdekaan politik, dan
6. Kemerdekaan sejati (Altimate Goal).
Asas-asas ini bukan sekadar teori, tetapi arah perjuangan yang menyeluruh — dari pembinaan umat hingga pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan.
Pada tahun 1931, para pendiri SI menegaskan bahwa kemerdekaan sejati hanya dapat dicapai jika kemerdekaan politik sudah terwujud.
Namun hari ini, meski kita telah merdeka secara politik, kemerdekaan sejati — dalam arti keadilan dan kesejahteraan — masih jauh dari harapan.
Medan Jihad Baru: Ekonomi Umat
Lahirnya Syarikat Islam berawal dari kegelisahan terhadap ketimpangan ekonomi. Maka, memperjuangkan keadilan ekonomi adalah jiwa dari gerakan SI. “Inti keadilan ekonomi adalah ketika tidak ada kelompok yang menindas kelompok lain melalui kekuasaan ekonomi.”
Dalam konteks Indonesia modern, perjuangan itu kini bergeser ke medan baru: menguatkan ekonomi umat melalui koperasi, UMKM, dan kolaborasi ekonomi rakyat. Pemerintah telah meluncurkan program Koperasi Desa langkah yang sejalan dengan cita-cita awal Syarikat Islam. Karena itu, sudah saatnya kaum Syarikat Islam mengambil peran nyata, menjadi pelaku utama dalam membangun ekonomi kerakyatan.
Mengonsolidasikan Kekuatan Serumpun
Syarikat Islam tidak berdiri sendiri. Gerakannya ditopang oleh organisasi sayap dan serumpun seperti Wanita Syarikat Islam (WSI), PERISAI, GERTASI, Pemuda Muslimin, Mahasiswa Muslimin, hingga SAKO SIAP.
Kini saatnya seluruh unsur ini berjalan beriringan, menyatukan langkah, dan memperkuat konsolidasi. Karena hanya dengan ekonomi yang kuat, umat bisa berdaulat. Masyarakat akan maju dan sejahtera apabila keadilan dan pemerataan ekonomi benar-benar terwujud.
Menatap 120 Tahun ke Depan
Refleksi 120 tahun Syarikat Islam bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi momentum untuk meneguhkan arah perjuangan.
“Kita harus menoleh ke belakang untuk mengambil pelajaran dari 120 tahun perjuangan, sekaligus menatap ke depan untuk merancang 120 tahun berikutnya.”
Tantangan baru di era digital, kapitalisme global, dan krisis moral menuntut kehadiran gerakan Islam yang berdaya, rasional, dan berpihak kepada rakyat. Syarikat Islam harus menjadi pusat gerakan dakwah ekonomi, pendidikan berkarakter, dan politik kebangsaan yang bermoral.
Dirgahayu ke-120 Tahun Syarikat Islam.
Semoga organisasi ini terus menjadi rumah nadi umat, tempat tumbuhnya kader berintegritas, dan benteng perjuangan menuju kemerdekaan sejati lahir dan batin.
Editor : Muttaqien
























Discussion about this post