BogorOne.co.id | Kota Bogor – Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor menebang pohon tua berjenis karet kebo di halaman Balai Kota Bogor, pada Kamis 6 November 2025, setelah hasil kajian menunjukkan kondisinya yang sudah rapuh, miring, dan berpotensi membahayakan masyarakat.
Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Disperumkim Kota Bogor, Hayati Devi Librianti, mengungkapkan bahwa pohon tersebut mengalami kerusakan serius di bagian akar, batang, dan kambium, dengan kemiringan lebih dari 60 derajat.
“Pohon ini memang bersejarah dan sudah berusia tua, tapi kondisinya sudah tidak layak. Akar dan batangnya rusak, posisinya miring, dan letaknya di pinggir jalan, jadi sangat berisiko tumbang,” ujarnya.
Karena intensitas hujan yang tinggi membuat batang licin, proses pemangkasan dilakukan pada siang hari untuk menjaga keselamatan petugas. Operasi ini menggunakan skylift dan dikerjakan secara bertahap.
Menurut Hayati, ukuran pohon yang sangat besar menjadi tantangan tersendiri. Sebelum dipangkas, pohon karet kebo itu memiliki diameter 2,5–3 meter dan tinggi mencapai 35 meter.
“Kayunya keras sekali, jadi pengerjaannya tidak bisa cepat. Kami lakukan pemotongan bertahap hingga ke bagian bawah,” katanya.
Langkah penebangan ini disebut sebagai tindakan preventif. Jika dibiarkan, potensi bahaya bisa fatal karena lokasi pohon berdekatan dengan jalan utama dan area Istana Bogor.
“Kalau pohon itu roboh, bisa menimpa pengendara bahkan menjangkau area Istana Bogor. Ini murni langkah pencegahan demi keselamatan publik,” tegas Hayati.
Pohon karet kebo tersebut diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1972, kemungkinan ditanam pada masa awal pembangunan kawasan Balai Kota Bogor.
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, Disperumkim memastikan akan menanam pohon pengganti di lokasi yang sama.
“Kami mohon maaf kepada masyarakat dan pemerhati lingkungan. Keputusan ini tidak mudah, tapi keselamatan harus diutamakan. Setelah penebangan selesai, kami akan lakukan penanaman ulang,” tutup Hayati.
Reporter : Resha Bunai
Editor : Muttaqien
























Discussion about this post