BogorOne.co.id | Indramayu – Masjid Al-Muhtadiin di Desa Jatibarang Baru, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memiliki menara yang tak lazim. Jika umumnya menara masjid dibangun dari beton atau baja, masjid ini justru memanfaatkan sebuah truk pengebor raksasa produksi 1985 sebagai menara.
Kendaraan mounted berbobot sekitar 45 ton itu merupakan aset Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung. Pada masanya, armada tersebut digunakan dalam proyek Pendayagunaan Air Tanah (PAT).
Mesin tipe Rig Tone Top 750 Top Drive itu mampu mengebor hingga kedalaman 700 meter. Sejak beroperasi pada 1987 hingga 2003, alat tersebut digunakan dalam berbagai proyek sebelum akhirnya mengalami kerusakan dan tidak lagi difungsikan. Pada 2023, kendaraan itu dialihfungsikan menjadi menara masjid.
Pantauan di lokasi menunjukkan truk bor ditempatkan di sisi kiri bagian depan masjid. Di bagian puncaknya terpasang kubah kecil dengan lafaz Allah dan empat pengeras suara.
Wakil Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhtadiin, Muhammad Carilah, mengatakan pemanfaatan kendaraan tersebut merupakan upaya optimalisasi aset lama yang memiliki nilai historis.
“Menara masjid ini memanfaatkan mobil tua bekas pengeboran sumur dalam milik BBWS. Kendaraan yang sudah tidak terpakai itu dijadikan monumen sekaligus elemen seni dan keindahan masjid,” ujar Carilah dikutip dari Beritasatu.com, Minggu (22/2/2026).
Menurut dia, kendaraan setinggi sekitar 12 meter itu tidak sekadar menjadi pajangan, melainkan berfungsi sebagai menara. “Jadi fungsinya memang benar-benar sebagai menara masjid. Di atasnya ada empat corong pengeras suara dan juga kubah,” kata dia.
Carilah menuturkan, gagasan mengubah truk bor menjadi menara berasal dari Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro. Pemasangannya dilakukan bersamaan dengan renovasi besar masjid pada 2023.
“Mobil ini sudah berhenti beroperasi sejak tahun 2000-an karena mengalami kerusakan. Kalaupun diperbaiki, biayanya cukup besar. Karena itu, pada 2023 mobil ini dipasang sebagai menara bersamaan dengan rehabilitasi masjid,” ujarnya.
Masjid Al-Muhtadiin berdiri sejak era Proyek Irigasi IDA (Prosida) sekitar 1970-an. Awalnya bangunan tersebut hanya berupa musala kecil di lingkungan perkantoran BBWS. Seiring bertambahnya jemaah, bangunan masjid diperluas secara bertahap dan kini juga digunakan masyarakat umum.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post