BogorOne.co.id | Indramayu – Menu rawon masih menjadi pilihan utama warga untuk bersantap sahur di Taman Bungkul, Jalan Darmo, Surabaya. Di antara deretan pedagang kaki lima di kawasan tersebut, Rawon Kalkulator tercatat sebagai salah satu warung yang ramai dikunjungi, baik oleh warga lokal maupun pendatang.
Warung ini dikenal karena konsistensi rasa serta lokasi yang strategis. Pada malam hari hingga menjelang sahur, pengunjung terlihat memadati lapak untuk menikmati seporsi rawon dengan potongan daging sapi berukuran besar.
Dalam satu porsi, pembeli mendapatkan lima hingga enam potong daging sapi. Teksturnya empuk dengan kuah bercita rasa gurih. Harga yang ditawarkan Rp 32 ribu untuk nasi campur dan Rp 40 ribu jika nasi disajikan terpisah.
Nama Rawon Kalkulator merujuk pada kemampuan pramuniaga menghitung total pesanan pelanggan secara cepat tanpa alat bantu. Kecepatan dan ketelitian dalam menjumlahkan pesanan itu menjadi ciri khas yang melekat pada warung tersebut.
Salah satu pelanggan, Amrullah, warga Sidoarjo, mengatakan rasa dan kualitas daging di warung itu relatif tidak berubah sejak dulu.
“Enak. Yang bikin kangen selain rasanya, potongan dagingnya juga besar-besar tetapi tetap empuk. Ini tadi habis dari makam Sunan Ampel, sekalian pulang mampir sahur di sini. Yang unik bukan cuma rasanya, tetapi juga cara menghitungnya yang cepat,” ujarnya dikutip dari beritasatu.com, Minggu, 22 Februari 2026.
Selain rawon daging, tersedia sejumlah varian lain seperti rawon sum-sum super, torpedo, kikil, buntut sapi jumbo, tetelan, dan empal. Pengunjung juga dapat memesan soto daging serta minuman hangat. Topping tambahan seperti babat, paru, usus, perkedel, tempe, dan telur asin turut disediakan.
Rawon Kalkulator telah beroperasi sejak 1975 dan menjadi salah satu kuliner yang bertahan di Surabaya. Warung ini buka setiap hari pukul 09.00–15.00 WIB. Selama Ramadan, jam operasional berubah menjadi pukul 11.00 WIB hingga menjelang subuh.
Karyawan Rawon Kalkulator, Khamim, mengatakan pengunjung biasanya membludak saat waktu berbuka dan sahur, terutama sekitar pukul 02.00 hingga sebelum azan Subuh. Ia menyebut kemampuan menghitung cepat yang menjadi ciri warung tersebut telah dipelajari sejak sekolah dan terus diasah saat bekerja.
“Kalau ada kesalahan sedikit saja, pasti terasa. Langsung kita ulang supaya pelanggan tidak kecewa,” kata dia.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post