BogorOne.co.id | Jakarta – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait negosiasi dengan Iran memicu kebingungan dan berpotensi menghambat upaya diplomatik menuju kesepakatan.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump menyampaikan pesan yang saling bertentangan mengenai konflik Iran, baik melalui media sosial maupun wawancara. Ia sempat menyatakan Iran “telah menyetujui semuanya”, tetapi di sisi lain mengancam akan menyerang jika Teheran menolak perjanjian.
Situasi ini muncul menjelang berakhirnya gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran, sementara progres negosiasi belum menunjukkan kejelasan.
Trump sebelumnya menyebut Iran telah menyetujui penghentian program nuklir tanpa batas waktu, tak lama setelah Teheran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz bagi kapal komersial pada Jumat, 17 April 2026. Pernyataan itu sempat memicu optimisme terhadap peluang kesepakatan damai setelah konflik berlangsung hampir dua bulan.
“Sebagian besar poin penting telah diselesaikan. Prosesnya akan berjalan cukup cepat,” kata Trump kepada Bloomberg.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump kembali menegaskan Iran telah menyetujui seluruh poin, termasuk kerja sama pengelolaan uranium yang diperkaya.
“Tidak. Tidak perlu pasukan darat. Kita akan berkoordinasi dengan mereka. Semuanya akan dilakukan bersama-sama,” ujar Trump.
Namun, Iran segera membantah klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan uranium merupakan isu kedaulatan.
“Uranium sama sakralnya dengan wilayah kami dan tidak akan dipindahkan ke mana pun,” kata Baqaei.
Ia juga menyatakan skenario pemindahan uranium ke AS tidak pernah dibahas dalam negosiasi.
Pernyataan yang bertolak belakang ini menimbulkan pertanyaan mengenai substansi kesepakatan yang sebenarnya serta akurasi klaim Trump.
Meski demikian, Trump tetap menunjukkan optimisme. Saat berbicara di Phoenix, Arizona, ia mengatakan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua pihak.
Namun, sikap tersebut kembali berubah. Pada Minggu (19/4/2026), Trump melontarkan ancaman keras.
“Jika Iran tidak menandatangani perjanjian ini, seluruh negara akan hancur,” ujarnya.
Ia menambahkan, AS siap menghancurkan infrastruktur vital Iran jika kesepakatan gagal dicapai.
Sehari kemudian, Senin, 20 April 2026, Trump menyatakan tidak berada di bawah tekanan waktu, tetapi memperingatkan bahwa “banyak bom akan dijatuhkan” jika gencatan senjata berakhir.
Ketidakkonsistenan juga terlihat dalam informasi terkait peran Wakil Presiden AS JD Vance dalam negosiasi di Islamabad, Islamabad, Pakistan.
Trump sempat menyebut Vance tidak akan hadir karena alasan keamanan. Namun, sejumlah pejabat AS, termasuk Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz dan Menteri Energi Chris Wright, menyatakan sebaliknya.
“Situasinya telah berubah,” kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CNN.
Kebingungan meningkat ketika Trump menyebut Vance sudah dalam perjalanan ke Pakistan, tetapi tak lama kemudian Vance terlihat masih berada di Washington.
Delegasi AS dijadwalkan berangkat pada Selasa (21/4/2026), dengan kemungkinan pembicaraan berlangsung pada Rabu (22/4/2026) di Islamabad. Namun, sumber menyebut situasi terus berubah.
Di sisi lain, Iran menyatakan belum berencana melanjutkan pembicaraan, meski tidak menutup kemungkinan tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyoroti “sinyal kontradiktif dan tidak konstruktif” dari AS serta menegaskan adanya ketidakpercayaan historis yang mendalam.
Sejumlah pejabat Iran juga menilai Trump seolah bernegosiasi melalui media sosial, yang berisiko menciptakan persepsi kesepakatan yang belum benar-benar terjadi.
Trump menyebut gencatan senjata akan berakhir pada malam 22 April waktu Washington, dengan peluang perpanjangan yang sangat kecil.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya menolak tekanan.
“Kami tidak menerima negosiasi di bawah tekanan atau intimidasi,” tulis Ghalibaf di platform X.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post