BogorOne.co.id | Kabupaten Alor – Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri membidik peningkatan daya saing tenun Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, melalui pelatihan pembuatan dan pemanfaatan pewarna alami bagi pengrajin dan pelaku usaha kriya tekstil.
Pelatihan yang digelar bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) itu berlangsung selama dua hari pada 18–19 Mei 2026 di Rumah Sentra Tenun Gunung Mako, Kabupaten Alor. Peserta terdiri atas pengrajin tenun dan kriya tekstil, pelaku UMKM, mahasiswa, hingga pelajar SMA sederajat.
Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Fauzan Hasan mengatakan pemanfaatan pewarna alami diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk tenun lokal sekaligus memperkuat daya saingnya di pasar kriya dan ekonomi kreatif.
“Kami ingin para pengrajin mampu menghasilkan produk yang berkualitas, inovatif, dan memiliki daya saing lebih luas,” kata Fauzan dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Kamis, 21 Mei 2026.
Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian mengatakan Kabupaten Alor memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dikembangkan sebagai bahan pewarna alami bagi produk tenun dan kriya tekstil.
“Alor memiliki kekayaan alam yang bisa dikembangkan menjadi ciri khas produk tenun daerah sekaligus mendukung produksi yang ramah lingkungan,” ujar Tri.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai konsep dasar pewarna alami, pemanfaatan sumber daya lokal, hingga teknik produksi mulai dari persiapan bahan baku, ekstraksi, penyaringan, hingga pemekatan warna.
Peserta juga mempelajari faktor-faktor yang memengaruhi kualitas warna seperti tingkat keasaman (pH), suhu, dan waktu proses. Selain itu, instruktur memberikan praktik langsung penerapan pewarna alami pada kain tenun dan kriya tekstil, termasuk eksplorasi variasi warna dari bahan alami di sekitar lingkungan peserta.
Materi pengendalian mutu atau quality control turut diberikan untuk menjaga konsistensi kualitas produk melalui pengujian ketahanan warna dan tingkat kelunturan kain.
Selain aspek produksi, pelatihan membahas teknik penyimpanan, pengemasan, branding, serta pengembangan pasar produk kriya berbasis pewarna alami. Peserta juga didorong mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Wakil Ketua Dekranasda Nusa Tenggara Timur Vera Asadoma menilai keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga keberlanjutan industri kriya lokal.
“Anak muda perlu dilibatkan agar muncul kreativitas dan semangat kewirausahaan berbasis budaya lokal,” kata Vera.
Pada akhir kegiatan, peserta mempresentasikan hasil praktik dan berdiskusi dengan instruktur mengenai pengembangan produk kriya berbasis pewarna alami untuk memperluas pasar produk lokal.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post