BogorOne.co.id | Boyolali – Ribuan warga memadati kompleks makam Ki Ageng Pantaran Syech Maulana Ibrahim Magribi di Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, Jumat, 10 Juli 2026. Mereka datang untuk mengikuti tradisi Buka Luwur sekaligus memperebutkan enam gunungan hasil bumi yang diyakini membawa berkah.
Begitu prosesi adat berakhir, warga berbondong-bondong menyerbu gunungan setinggi sekitar tiga meter yang berisi aneka hasil pertanian dari lereng Gunung Merbabu. Sayuran dan buah-buahan yang sebelumnya disusun rapi itu ludes dalam hitungan menit.
Bagi sebagian warga, hasil bumi yang diperoleh bukan sekadar bahan pangan, melainkan simbol harapan akan rezeki dan keselamatan. Kurnia, salah seorang peserta, mengatakan sengaja mengikuti tradisi tersebut untuk memperoleh berkah sebagaimana yang diwariskan orang tuanya.
“Saya ikut ngala berkah. Nanti sayurnya dimasak dan dimakan bersama keluarga. Orang tua dulu bilang supaya mendapat berkah,” katanya.
Sebelum diperebutkan, enam gunungan diarak menuju kompleks makam dalam kirab budaya. Iring-iringan diawali pasukan Keraton Surakarta yang membawa kain mori dan bunga tabur, disusul rombongan pembawa gunungan, pejabat daerah, serta penampilan kesenian tradisional.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pergantian kain mori di makam Ki Ageng Pantaran Syech Maulana Ibrahim Magribi yang diiringi doa bersama. Ritual tersebut menjadi bagian utama dalam tradisi Buka Luwur yang setiap tahun digelar masyarakat Gladagsari.
Panitia penyelenggara, Ayub, mengatakan tradisi itu merupakan warisan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen. Menurut dia, rebutan gunungan menjadi bagian yang paling ditunggu karena masyarakat percaya hasil bumi tersebut membawa keberkahan.
“Ini tradisi turun-temurun masyarakat Gladagsari. Warga berebut gunungan hasil bumi agar mendapat berkah,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Boyolali, Candra Irawan, menilai Buka Luwur tidak hanya memiliki nilai sejarah dan spiritual, tetapi juga berpotensi memperkuat sektor pariwisata daerah. Tradisi itu dinilai mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar lereng Gunung Merbabu.
Menurut Candra, pelestarian tradisi menjadi penting agar warisan budaya tersebut tetap hidup di tengah masyarakat sekaligus menjadi identitas budaya Boyolali.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post