BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Bangunan MIS Al Barkah di Kampung Ciawi, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, mengancam ratusan siswa dan guru. Madrasah yang berdiri sejak 1964 itu kini mengalami kerusakan berat, bahkan pernah menimbulkan korban akibat material bangunan yang roboh.
Kepala MIS Al Barkah, Sri Khairun Nisa Nurul Azizah, mengatakan peristiwa itu terjadi pada 2024. Saat itu, seorang siswa tertimpa material atap yang tiba-tiba runtuh hingga mengalami luka di bagian kepala.
Menurut Sri, kejadian tersebut bukan disebabkan oleh bencana alam seperti hujan deras maupun gempa, melainkan akibat kondisi bangunan yang telah rapuh dimakan usia.
“Di tahun 2024 pernah ada kejadian anak yang memang ketimpa atap, kepalanya terluka,” ujar Sri, Senin 20 Juli 2026.
Meski tidak menyebabkan korban jiwa, insiden itu menjadi pengingat bahwa bangunan sekolah sudah tidak lagi aman digunakan. Namun, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung lantaran belum tersedia gedung pengganti.
Setiap hari, rasa waswas masih dirasakan para guru dan siswa ketika berada di dalam kelas. Terlebih, beberapa bagian bangunan mulai menunjukkan tanda kerusakan serius, mulai dari dinding retak hingga atap yang bocor saat hujan.
“Kami ingin mendapatkan bantuan, baik dari pemerintah ataupun donatur, agar kegiatan belajar mengajar di madrasah ini bisa berjalan dengan semestinya,” kata Sri.
Kekhawatiran serupa dirasakan Annisa Faiha Novia, siswi kelas VI MIS Al Barkah. Ia mengaku sulit belajar dengan tenang karena khawatir bangunan sekolah sewaktu-waktu roboh.
“Kadang saya merasa takut melihat tembok yang sudah seperti ini. Takutnya nanti saat belajar tiba-tiba ambruk. Kalau hujan juga atap sering bocor,” ujar Annisa.
Menurut dia, kondisi tersebut kerap mengganggu konsentrasi siswa, terutama ketika hujan turun dan air masuk ke ruang kelas.
“Saya berharap sekolah ini mendapat bantuan dari pemerintah dan bisa direnovasi supaya kami bisa belajar dengan nyaman,” tuturnya.
Saat ini, MIS Al Barkah memiliki 150 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar dengan didukung 10 tenaga pendidik. Namun, madrasah hanya memiliki lima ruang kelas sehingga satu ruangan harus disekat untuk digunakan oleh dua kelas.
Kerusakan bangunan terlihat di sejumlah bagian. Dinding mengalami retakan dan mulai miring, sebagian lantai masih berupa plester, sementara atap kerap bocor ketika hujan turun.
Sri mengatakan pihak sekolah telah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan melalui berbagai jalur, seperti program SIM Sarpras, Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), hingga proposal tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun, hingga kini belum ada bantuan yang terealisasi.
Madrasah yang terakhir kali direhabilitasi pada 1990 itu berharap pemerintah maupun pihak swasta segera memberikan dukungan untuk melakukan perbaikan. Sebab, tanpa renovasi, keselamatan siswa dan guru masih terus terancam oleh kondisi bangunan yang semakin rapuh.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post