BogorOne.co.id | Osaka – Pelajar Indonesia berusia 13 tahun, Kenzio Muhammad Raharjo, meraih medali emas dalam ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 di Osaka, Jepang. Ia juga memperoleh penghargaan khusus Special Award for the Best International Invention and Innovation berkat inovasi platform simulasi diplomasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama MUNspark.
Kompetisi yang digelar oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) di Kansai Airport Conference Halls, Osaka, pada 3-4 Juli 2026 itu mempertemukan pelajar, peneliti, profesional, dan perusahaan untuk memamerkan berbagai inovasi dan temuan.
MUNspark dikembangkan sebagai platform simulasi diplomasi berbasis sistem multi-agent AI. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pelajar melatih kemampuan diplomasi, debat, negosiasi, komunikasi, berpikir kritis, hingga kepemimpinan global melalui simulasi interaktif.
Kenzio mengatakan gagasan mengembangkan MUNspark muncul setelah mengikuti sejumlah konferensi Model United Nations (MUN) dan kompetisi internasional. Dari pengalamannya, ia melihat tidak semua pelajar memiliki akses yang sama terhadap pelatihan diplomasi dan debat karena keterbatasan mentor, fasilitas sekolah, kemampuan berbahasa Inggris, maupun biaya.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuat banyak siswa kesulitan mengembangkan kemampuan berargumentasi, bernegosiasi, dan memimpin. Berangkat dari persoalan itu, ia merancang MUNspark agar pelatihan diplomasi dapat diakses lebih luas.
Melalui platform tersebut, pengguna dapat berlatih menghadapi sejumlah delegasi virtual yang diperankan agen AI. Sistem akan merespons argumentasi pengguna, kemudian mengevaluasinya berdasarkan struktur berpikir, relevansi jawaban, kualitas komunikasi, serta strategi negosiasi. Pengguna juga memperoleh umpan balik yang disesuaikan dengan hasil latihan untuk meningkatkan kemampuan pada sesi berikutnya.
“Banyak siswa memiliki potensi yang luar biasa, tetapi tidak semua memiliki akses yang sama untuk mengembangkan kemampuan tersebut,” kata Kenzio dalam keterangan tertulis, Rabu, 15 Juli 2026.
Ia berharap teknologi dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi pelajar untuk belajar, berlatih, dan mengembangkan kemampuan diplomasi tanpa bergantung sepenuhnya pada pelatihan konvensional atau pendampingan mentor.
Selain itu, MUNspark dirancang agar dapat dimanfaatkan oleh pelajar dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Pendekatan tersebut diharapkan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih adaptif dan terukur.
Pengembang menyebut teknologi inti MUNspark saat ini sedang dalam proses permohonan paten dengan judul Adaptive Argument Evaluation and Iterative Feedback System for Diplomatic Debate Simulation. Teknologi tersebut berfokus pada sistem evaluasi argumentasi dan pemberian umpan balik bertahap dalam simulasi debat diplomatik.
Namun, dalam dokumen yang diterima, pengembang belum mencantumkan nomor maupun salinan permohonan paten tersebut.
Ke depan, Kenzio berharap MUNspark tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga membantu memperluas akses pendidikan diplomasi dan kepemimpinan bagi pelajar, terutama mereka yang berasal dari komunitas dengan keterbatasan sumber daya. Menurut dia, setiap siswa semestinya memiliki kesempatan yang sama untuk mempelajari diplomasi dan kepemimpinan global, tanpa dibatasi kondisi ekonomi, lokasi geografis, maupun kemampuan bahasa.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post